Selasa, 02 Oktober 2012

Menelusuri Pesona Baghdad Masa Keemasan melalui "The Thief of Baghdad" Karya Alexander Romanoff

Inilah kisah klasik Timur Tengah tentang petualangan Ahmad, Si Pencuri dari Baghdad pada masa kejayaan kekhalifahan Bani Abbasiah yang menguasai hampir 1/2 belahan dunia. Buah karya Alexander Romanoff (Achmed Abdullah), penulis cerpen dan novelis Inggris kelahiran Rusia ini begitu memukau dan legendaris. Karya ini dipenuhi narasi tentang perpaduan kisah romantisme dengan keajaiban dongeng klasik Seribu Satu Malam yang sarat dengan eksotisme Timur Tengah dilatari kehidupan metropolitan Baghdad yang multikultural, multibahasa, dan multietnik. Setelah pertama kali diterbitkan pada tahun 1924, kisah The Thief of Baghdad telah empat kali diangkat ke layar lebar dalam film Hollywood pada tahun 1924, 1940, 1960 (dengan judul yang sama, The Thief of Baghdad) dan 1979 (dengan judul Arabian Adventure).
 
Ringkasan  The Thief of Baghdad
Berawal dari kisah seorang pencuri yang memiliki akal pikiran yang cerdik, cerdas dan lumayan licin di kota Baghdad yang bernama Ahmad. Dia adalah seorang pencuri yang benar-benar professional sehingga istana kerajaan pun dapat ia masuki dengan mudahnya. Ahmad memiliki watak beberapa watak jelek seperti periang, usil, dan sombong. Ia memiliki pikiran bahwasanya ia dapat hidup dikarenakan oleh dirinya sendiri dan tanpa bantuan dari satu hal pun tak terkecuali dengan Allah. Ia berteman dengan seekor burung yang selalu membantunya dalam usaha-usaha pencurian yang ia langsungkan. Sampai pada suatu ketika ia merencanakan tindak pencurian kedalam istana bersama si burung tersebut, namun di dalam istana ia bertemu dengan seorang putri yang amat cantik dan menawan bernama Zubaedah, ia adalah putri dari khalifah di istana tersebut. Ternyata pertemuan itu membuat Ahmad jatuh cinta terhadap Zubaedah sampai-sampai ia menggagalkan usaha pencurian yang akan ia langsungkan dikarenakan hal itu.

Cinta merubah pandangan Ahmad mengenai kehidupan, segalanya nampak tak berarti apa-apa di dalam pikiran Ahmad. Sampai pada akhir kata Ahmad mengalami depresi yang cukup berat dikarenakan cintanya terhadap sang putri khalifah yakni Zubaedah. Sehari-hari ia merasa amat kecil dan pesimis dengan merindukan sosok Zubaedah di istana, watak Ahmad sebagai seorang yang sombong pun perlahan hilang dikarenakan hal tersebut.
Pada saat itu Zubaedah didatangi oleh tiga pangeran dari negeri yang berbeda-beda dengan tujuan untuk menjadikannya sebagai istri. Ketiga pangeran tersebut mendatangi Zubaedah dengan menyombongkan atribut-atribut yang mereka miliki, mulai dari kekuasaan, gelar dan kekayaan. Ketiga pangeran tersebut berasal dari Persia, India dan Mongol. Akan tetapi pangeran dari Mongol lah yang memiliki maksud teramat jahat umumnya terhadap pemerintahan khalifah Baghdad pada saat itu. Ia menyimpan maksud untuk meminang putri Zubaedah guna memperluas kekuasaan Mongol terhadap daerah Baghdad.
Dikarenakan cinta Ahmad yang begitu menggebu terhadap sang putri, Ahmad memaksakan diri untuk hadir disana dengan cara menyamar menjadi seorang pangeran pula seperti ketiga lainnya, meskipun dengan segala atribut yang aneh serta unik. Akan tetapi sosok Ahmad lah yang menjadi idaman bagi sang putri di dalam hatinya. Kemenangan Ahmad untuk memperebutkan hati Zubaedah tidaklah bertahan sampai disitu saja, Ia ingin mendapat sesuatu yang lebih baik daripada berpura-pura sebagai seorang pangeran, ia ingin mencintai dan dicintai Zubaedah sebagai seseorang yang nyata dan apa adanya. Maka sampai pada suatu ketika Ahmad memutuskan untuk mengatakan mengenai identitasnya yang asli terhadap Zubaedah, akan tetapi Zubaedah pun terlanjur telah mencintai Ahmad pula.
Tak lama dari saat itu Pangeran Mongol mengetahui tentang identitas Ahmad yang sebenarnya dan melaporkannya terhadap Sang Khalifah yang menyebabkan Sang Khalifah murka dan pada akhirnya Ahmad pun ditangkap oleh pasukan di istana tersebut. Sebelum Ahmad benar-benar tertangkap, sang putri berpesan terhadap Ahmad agar ia dapat benar-benar berubah dan Zubaedah pun menunggunya sampai Ahmad telah menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya. Tak lama setelah Ahmad tertangkap oleh sang khalifah, Ahmad dapat terbebas kembali yang tentunya oleh bantuan Zubaedah sendiri, setelah itulah petualangan panjang Ahmad dimulai untuk berusaha menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
Pada sauatu waktu ia bertemu dengan ulama dan ulam tersebut memberi beberapa petunjuk terhadap Ahmad sehingga Ahmad dapat melalui berbagai rintangan dan penderitaan untuk mencapai kebahagiaan dengan kesabaran, kebaranian, kejujuran, kerendahhatian serta amal ibadah dan iman kepada Allah. Ia berniat untuk mengubah seluruh sifat yang telah ada di dalam dirinya sebelumnya. Guna memenuhi titah ayahnya dalam memilih pinangan yang diberikan pada pangeran dan juga guna mengulur waktu, Zubaedah mengadakan sebuah perlombaan agar para ketiga calon tersebut dapat membawakan benda-benda yang paling langka di dunia baginya sehingga ketiga pangeran tersebut pun memulai petualangannya untuk menempuh perjalanannya masing-masing.Dalam petualangannya Ahmad harus menjalani beberapa godaan dan cobaan di tempat-tempat tertentu dan semua ujian itu hanya dapat dahadapi dengan kebersihan jiwa dari berbagai seifat buruk dan kepasrahan terhadap Allah. Akan tetapi semua itu hanya dapat dilalui dengan hati yang bersih dari dosa, sampai pada akhirnya Ahmad menemukan sebuah peti harta karun yang berisi misteri gaib terbesar di dunia.
Tiba pada di akhir waktu dari perlombaan tersebut, akan tetapi ketiga pangeran tersebut saling bersikukuh untuk mendapatkan Zubaedah, sehingga keputusan dari putri Zubaedah pun kembali ditangguhkan. Pada malam harinya pangeran Mongol menjalankan rencana keduanya, pada saat itu Baghdad diserang oleh pasukan Mongol. Zubaedah dan sang Khalifah pun bahkan ikut tertawan jua, akan tetapi Ahmad pun datang ditengah keadaan yang genting seperti itu untuk menyelamatkan mereka berdua.

Biografi Alexander Romanoff (12 Mei 1881 - 12 Mei 1945)
Alexander Romanoff Nicholayevitch atau yang dikenal juga dengan nama Abdullah Nadir Khan el-el Durani Iddrissyeh dilahir pada tahun 1881 di Yalta, Rusia. Ayahnya bernama Grand Duke Nicholas Romanoff yang merupakan seorang Ortodoks asal Rusia dan ibunya adalah seorang putri Nourmahal Durani yang merupakan seorang Muslim dari Afghanistan.  Dia adalah seorang anak yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya dikarenakan perceraian, bahkan dikabarkan bahwa sang ibu pernah berusaha untuk meracuni suaminya sendiri tersebut. Dia ditinggalkan untuk kemudian diserahkan kepada asuhan kakek dan neneknya di Afghanistan. Pada usia 12 tahun ia berpindah ke Inggris dan dikirim ke Eton untuk kemudian disekolahkan ke Oxford University, ia pun sempat belajar di Universitas Paris. Meskipun berasal dari turunan ayahnya yang merupakan seorang non-muslim, ia dibesarkan sebagai seorang muslim dibawah asuhan sang kakek dan nenek. Namun setelah itu ia sempat menyatakan bahwa dirinya adalah seorang katolik Roma.
 Setelah ia berhasil lulus dari sekolahnya, kemudian ia bergabung dengan Angkatan Darat Inggris sehingga ia pernah menjabat sebagai seorang colonel selama 17 tahun ia berkarir di dalam kemiliterannya. Ia sempat menjabat beberapa negara selain Eropa diantaranya adalah India, Afghanistan, Tibet, Afrika, China dan Turki. Dia banyak menghabiskan waktunya di dalam bidang militer sebagai sebagai mata-mata karena ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai adat-istiadat Timur Tengah, Oriental, kebahasaan dan keagamaan.
Ketika Perang Dunia pertama berlangsung ia pernah diberi hukuman oleh pihak jerman dikarenakan ia tertangkap menyusup sebagai mata-mata, namun setelah  berakhirnya Perang Dunia I namanya pun mulai melejit dengan cerita pendek dan novel-novel yang ia buat yang kebanyakan berasal dari pengalaman hidupnya sendiri, bahkan selama ia menetap di Amerika Serikat pada tahun 1920, ia pun sempat menjadi seorang dramawan dan seorang penulis scenario disana sehingga ia sempat memiliki beberapa nama samara, diantaranya adalah A.A Nadir dan John Hamilton. Gelar doctor pun dinobatkan kepadanya oleh Universitas Al-Azhar, Kairo di dalam studi Al-Quran.
Alexander Romanoff sempat menikah setidaknya tiga kali yakni dengan Irene Bainbridge, Wick Jean dan terakhir dengan Rosemary A. Dolan. Dengan istri pertamanya ia sempat memiliki dua orang putrid yakni Phyllis Abdullah dan Susan Abdullah Brower. Kemudian pada bulan Januari tahun 1945, Romanoff dirawat di Columbia Presbyterian Medical Center dan beberapa bulan kemudian tepat pada tanggal 12 Mei pula ia meninggal. 

Latar Belakang penulisan novel The Thief of Baghdad
Pada dasarnya novel yang ditulis oleh Alexander Romanoff  atau Achmed Abdullah ini adalah merupakan sebuah novel yang terinspirasi oleh sebuah legenda yang beredar di daerah kawasan Timur Tengah yang kemudian dikenal dengan cerita 1001 malam mengenai petualangan Aladdin, yang kemudian Romanoff gambarkan dengan seorang tokoh bernama Ahmad. Novel ini memiliki keunggulan khusus dalam segi penceritaannya karena memiliki perpaduan diantara cerita romansa dan keajaiban yang sudah tak jarang lagi kita dengar mengenai wilayah Timur Tengah.

Novel ini pertama diterbitkan pada tahun 1924 yang kemudian menjadi salah satu karya Romanoff yang termasyhur, namun pada tahun 1940an ketika novel ini pertama dirilis ke dalam dunia sinema, nama Romanoff pun perlahan memudar (meskipun tak sampai menghilang) tergantikan oleh nama director pembuat film dengan judul yang sama dikarenakan film tersebut laku-laris sehingga sempat dirilis ulang sebanyak empat kali.
Kemungkinan Romanoff menulis novel ini untuk menggambarkan (meskipun tak seluruhnya) situasi di dalam dunia Islam, khususnya yang berada di dalam wilayah Baghdad pada zaman –zaman pertengahan yang berakhir pada tahun 1250 M. Pada zaman tersebut kota Baghdad adalah merupakan satu kota yang menjadi titik terpenting pada periode kekuasaan Abbasiyah, kota tersebut sempat mencapai puncak keemasannya pada tahun 750 M – 847 M, masyarakatnya digambarkan sebagai sebuah masyarakat dengan tingkat kemakmuran yang benar-benar merata sehingga banyak mencapai puncak-puncak kejayaan di dalam segala aspek, sebagai contoh di dalam aspek agama, pengetahuan dan juga filsafat.
Romanoff nampaknya benar-benar memiliki pengetahuan yang dalam mengenai dunia Islam, khususnya di wilayah Timur Tengah, meskipun ia dilahirkan dari sebuah negara yang bukanlah negara Islam, akan tetapi ia mengetahui banyak seluk-beluk mengenai negara-negara Islam, sebagai contoh adalah hal yang telah dijelaskan di atas tadi, mengenai periode zaman Abbasiyah meskipun masa kekhalifahan tersebut sudah lama hancur sebelum dirinya sempat dilahirkan oleh kedua orangtuanya pada tahun 1881. Nampaknya Romanoff terobsesi dengan kisah Perang Salib (yang turut termasuk di dalam perioda kekhalifahan Bani Abassiyah) dikarenakan dirinya disamping merupakan seorang penulis yang juga berprofesi sebagai seorang yang turut andil di dalam dunia kemiliteran.

Latar Belakang Sosial, Budaya, Ekonomi, Politik dan Peradaban
Dari sebuah tulisan dengan judul The Thief of Baghdad ini mungkin sekilas dapat tergambarkan oleh kita mengenai keadaan yang seperti apa yang Romanoff coba untuk gambarkan di dalam isi novelnya tersebut. Perkiraan Romanoff terinspirasi oleh zaman Abbasiyah, khususnya di kota Baghdad pada masa-masa kemundurannya sebelum akhirnya kota tersebut dikuasai oleh pemerintahan Mongolia.  Penggambaran tokoh utama yang bernama Ahmad pun dibuat sebagai seorang pencuri yang berwatak cerdik, senang berfoya-foya, sombong, tak percaya terhadap Allah (hampir sama dengan watak yang dimiliki oleh tokoh Aladdin dalam dongeng 1001 malam). Ahmad yang digambarkan sebagai pencuri kemungkinan diambil dari inspirasi mengenai keadaan social pada saat itu yang sedang diguncang oleh krisis ekonomi yang cukup parah di wilayah Baghdad sehingga banyak memaksa rakyatnya untuk melakukan tindak-tindak pencurian untuk menghidupi dirinya masing-masing. Menurut beberapa referensi, kemunduran Abbasiyah di Baghdad dalam bidang ekonomi masih ada kaitannya juga dengan isu-isu politik yang beredar di kalangan pemerintah di kota tersebut. Meskipun pada zaman-zaman sebelum masa kemundurannya kota ini adalah merupakan suatu kota yang makmur dan kaya akan tetapi setelah memasuki pintu gerbang kemundurannya tingkat kemakmuran dan kekayaan tersebut dapat menurun dengan amat cukup drastic yang dikarenakan oleh semakin menyempitnya wilayah-wilayah kekuasaan yang dipegang oleh Bani Abbasiyah dan kericuhan-kericuhan yang sering terjadi di dalam pemerintahannya. Banyaknya rakyat yang ogah-ogahan untuk membayar upeti dan pajak berlangsung tidak seperti masa-masa sebelumnya. Akan tetapi kehidupan para pejabat malah berbalik dengan keadaan yang terjadi terhadap rakyatnya, mereka dapat hidup lebih mewah dikarenakan banyak oknum-oknum mereka yang melakukan tindak-tindak korupsi. Suasana dan lukisan tersebut berjalan dengan meluas dan memanjang sehingga system perekonomian yang dianut oleh kota tersebut dibuat kacau-balau olehnya, yang kemudian pada akhirnya hal tersebutlah yang memperburuk kondisi perpolitikan di dalam periode Abbasiyah sehingga menariknya kedalam mulut-mulut kemunduran.
Ketiga tokoh karakter yang menjadi lawan Ahmad dalam berusaha merebut hati Zubaedah digambarkan dengan sosok-sosok pangeran yang berasal dari Persia, India dan Mongolia. Dalam novel ini dinyatakan pula bahwa yang paling berbahaya adalah pangeran yang berasal dari Mongolia karena dibalik maksudnya untuk mendapatkan hati Zubaedah, ia pun memiliki niat politik yang tersembunyi. Sama seperti halnya masa pemerintahan bani Abbasiyah yang dikabarkan bahwa Mongolia dibawah pimpinan Hulagu Khan- lah yang merupakan lawan tertangguh dan yang terlicik, dapat kita ingat mengenai niat Hulagu Khan yang ingin mengawinkan anak perempuannya dengan putra dari khalifah Abbasiyah yang bernama Abu Bakr Ibn Mu’tashim demi menggapai dan merebut kekuasaan yang dimiliki oleh Bani Abbasiyah yang kemudian tak lama setelah itu seluruh pemerintah Baghdad dibunuh dengan bengis dengan cara disembelih oleh Hulagu Khan dan para pasukannya, kemudian mereka membumihanguskan kota Baghdad sampai dibuat benar-benar rata dengan tanah. Hal tersebut menyebabkan jatuhnya kekuasaan bani Abbasiyah kedalam tangan pemerintahan Hulagu Khan selama beberapa tahun lamanya dan menyebabkan kemunduran yang amat total di dalam system politik dan peradaban yang ada di dunia Islam dikarenakan Baghdad adalah suatu kota yang memegang peranan penting di dalam peradaban dan kebudayaan Islam di dunia.
Sama seperti halnya dengan kisah yang diceritakan di dalam novel berjudul The thief of Baghdad karya Alexander Romanoff ini yang mengisahkan bahwa tangan pemerintahan kota Baghdad jatuh kedalam kekuasaan Mongol, namun kisah ini bukanlah merupakan suatu khatarsis seperti apa yang dimaksudkan oleh Aristoteles sebelumnya. Cinta sejati Ahmad dan sang putri Zubaedahlah yang memenangkan cerita ini dengan situasi cerita yang happy ending.

Sumber:
  1. Alexader Romanoff, The Thief of Baghdad: Kisah Cinta Sejati Pangeran Pencuri, Jakarta: Dastan Books, 2005, penerjemah Bima Sudiarti
  2. http://twinkle-euisry.blogspot.com/2008/01/thief-of-baghdad-kisah-cinta-sejati.html