Selasa, 14 Februari 2012

The Kite Runner: Resensi dan Interpretasi

      Khaled Khosseini adalah salah satu penulis Amerika, kelahiran Afghanistan. Salah satu novel magnum opus dari Khaled Khosseini adalah The Kite Runner. 
               
Sumber: en.wikipedia.org                 Sumber: jhy2.blogspot.com

Resensi The Kite Runner Oleh Eviez (Euis Sri)
        Waktu kecil Amir & Hassan senantiasa bersama. Ibu Amir telah meninggal saat melahirkan Amir. Ayahnya seorang yang berpengaruh dan dihormati dalam masyarakatnya. Ayahnya seorang pria sejati, pemberani dan berkemauan keras. Kenyataan bahwa karakter Amir jauh dari pandangan ayahnya tentang pria sejati membuat jarak antara mereka. Amir yang penggemar sastra, pandai membuat cerita. Tapi bukannya ayahnya, malah Rahim Khan, sahabat rekan bisnis ayahnya yang memberikan apresiasi atas kepandaiannya ini. Selama ini, Rahim Khanlah yang dapat menyelami perasaan Amir atas sikap keras ayahnya. Harapan ayahnya, puteranya pandai sepakbola dan kegemaran lain semacamnya yang lebih 'bersifat lelaki'. Amir kecil menjadi merasa dirinya tak cukup baik bagi ayahnya, bahkan berprasangka ayahnya membencinya karena ia membunuh ibunya.
Hassan dan ayahnya, Ali, sebagai pembantu keluarga Amir tinggal di gubuk kecil di belakang rumah Amir yang besar. Ibu Hassan adalah seorang penari cantik yang kabur setelah melahirkan Hassan. Hassan memiliki segala hal yang dapat membuat anak-anak berandal seusianya mencemoohnya. Ia keturunan Hazara, sebuah etnis minoritas yang dalam masyarakatnya di anggap rendah. Ia juga berbibir sumbing, dan ayahnya menderita polio.

Meski Amir dan Hassan layaknya kawan bermain yang akrab, tapi kenyataan bahwa Amir adalah tuan dan Hassan adalah pelayan mewarnai persahabatan mereka. Tanpa diminta, Hassan selalu bertanggungjawab atas kenakalan mereka yang sebenarnya muncul dari ide Amir. Hassan anak yang cerdas dan berbakat, hanya saja ia tak bersekolah. Amir menyadari bahwa bakat Hassan melebihi dirinya. Ayah Amir juga sangat menyayangi Hassan. Hal ini membuat Amir memendam iri dan kerap berbuat tak adil terhadap Hassan, yang selalu bersikap menerima dan tak pernah marah. Sikap inilah yang semakin membuat Amir marah pada dirinya sendiri, tapi melampiaskannya pada Hassan.

Titik terpenting yang sangat berpengaruh bagi kehidupan Amir adalah saat turnamen layang-layang pada musim dingin 1975. Turnamen ini sangat bergengsi dan diikuti dengan antusias oleh seluruh masyarakat. Turnamen baru berakhir jika di langit tinggal hanya satu layang-layang pemenang, tak peduli berapa lamanya pertandingan berlangsung. Layang-layang yang paling akhir terputus menjadi buruan paling dinantikan semua orang. Layang-layang itu menjadi simbol kebanggaan bagi yang berhasil menangkapnya. Momen ini menjadi sangat penting bagi Amir yang ingin merebut perhatian dari ayahnya. Jika dia berhasil menjadi pemenang, dan mendapatkan layang-layang terakhir yang putus... Kala ragu menjelang momen ini, Hassan selalu memberikan dukungan dan motivasi untuk meyakinkan Amir.

Dan Amir memang mendapatkannya, tapi dengan harga mahal. Ia berhasil menyingkirkan layang-layang lain hingga tinggal punyanya sendiri dan sebuah layang-layang biru tangguh yang lain di langit. Atas strategi arahan Hassan, akhirnya layang-layang biru itu putus juga. Segera Hassan bersedia mengejar dan tangkapkan layang-layang itu untuk Amir. Saat itulah kalimat itu terucap, "Untukmu, yang keseribu kalinya". Sebuah kalimat kesetiaan Hassan yang tak habis-habisnya untuk Amir.

Larin Hassan sangat cepat, hingga Amir tak bisa mengejarnya. Amir sembunyi saat melihat Hassan dengan layang-layang biru ditangannya, dihadang sekelompok anak berandal dipimpin Assef yang kejam. Dibalik persembunyiannya, ia saksikan semuanya. Assef memaksa Hassan serahkan layang-layangnya. Assef mendendam pada Hassan yang pernah mengancam menembakkan ketapel pada matanya untuk membela Amir. Assef janji akan membebaskannya jika Hassan serahkan layang-layang. Tapi Hassan tak bergeming. Baginya, layang-layang itu untuk Amir. Batin Amir bergejolak, apa ia akan membela Hassan seperti Hassan membela dia, dan kesampingkan bahaya? Tapi ia terlalu takut. Ia tidak kesana, sampai hal mengerikan terjadi. Hassan disodomi oleh Assef.

Sejak itu semua berubah. Amir tak bisa mengusir rasa bersalah. Ia bertanya-tanya adakah Hassan tahu, ia melihat semuanya? Meski Hassan bersikap biasa padanya, Amir tak bisa mengimbanginya. Tak tahan, Amir merasa perlu berjauhan dengan Hassan. Ia malah merancang sebuah tuduhan agar Hassan diusir. Meski ayahnya tak mau mengusir mereka, Hassan dan Ali tetap pergi. Dan hidup Amir justru semakin hampa.

Waktu berlalu, Amir dewasa kini tinggal di San Fransisco. Sejak pendudukan Rusia ke Kabul, Amir dan Ayahnya meninggalkan tanah air. Banyak hal telah dialami, ketegangan di pengungsian, jatuh miskin, usaha ayahnya untuk membiayai hidup di negeri orang dan sekolah Amir, hingga Amir menikah namun tak kunjung punya anak, sampai ayahnya wafat. Sebuah telepon dari Rahim Khan mengembalikan seluruh memori traumatis masa lalunya. Afganistan masih bergejolak dan tengah diduduki Taliban, tapi Rahim Khan justru memanggilnya kesana.

Orang seperti Amir mau meninggalkan San Fransisco yang nyaman & justru kembali ke tanah kelahiran yang sama sekali tak aman? Keputusan itu memang gila, tapi akhirnya Amir tahu itulah yang terbaik yang harus dilakukan untuk menebus dosanya. Seperti kata Rahim Khan, ”Ada jalan untuk kembali baik, Amir”.

Amir mendapati kebohongan terbesar selama hidupnya dari almarhum ayahnya sendiri, yang mengatakan bohong adalah mencuri kebenaran, dan mencuri adalah satu2nya dosa yang ada di dunia. Kebenaran justru terungkap dari Rahim Khan, bahwa Hassan adalah saudara tirinya, hasil perselingkuhan ayahnya dengan istri Ali. Hassan dan istrinya sudah syahid, hanya meninggalkan sepucuk surat dan sebuah foto ia dan puteranya. Misi Amir ke Afghanistan adalah mencari anak Hassan, Sohrab dan membawanya menjauh dari segala kengerian yang kerap terjadi bagi anak-anak dalam kondisi perang.

Tentu tak semudah itu. Tapi Amir menjalaninya, menyaksikan negeri kelahirannya menjadi puing, merasakan seluruh kenangan masa kecilnya yang jauh, bahkan harus berhadapan dengan ketua Taliban yang berbahaya. Demi Sohrab, ia menempuh seluruh kesulitan. Bahkan saat Sohrab tak pernah lagi tersenyum, terhapus kepahitan hidup yang terlalu berat bagi anak sekecil ia.

Sumber: http://id.shvoong.com/books/novel-novella/1858339-kite-runner/#ixzz1xFHknnho




Keadaan Afghanistan Dalam The Kite Runner Melalui Pendekatan Post-Kolonialisme
            Postkolonialisme pada umumnya diartikan sebagai teori yang lahir akibat banyaknya negara-negara terjajah yang memperoleh kemerdekaannya. Kolonialisme itu sendiri merupakan pengembangan kekuasaan sebuah negara terhadap wilayah dan manusia di luar batas negaranya yang seringkali mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Adapun tema-tema yang dibahas dalam postkolonialisme itu sangat beragam dan hampir meliputi aspek kebudayaan seluruhnya, seperti politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi, kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, serta dalam bentuk praktik lapangan, antaralain seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan lain-lain.
            Berangkat dari penjelasan di atas, penulis tertarik untuk menganalisis novel karya Khaled Hosseini ini melalui teori postkolonialisme, di mana di dalamnya menggambarkan keadaan Afghanistan yang menyajikan konflik dan tragedi pribadi yang terjalin dengan latar belakang historis dari trauma nasional dan budaya akibat penjajahan Inggris, Soviet, Rusia dan lain-lain.
            Jika melihat pada bagian awal cerita ini yang menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di Afghanistan beberapa tahun silam saat berada dalam keterpurukan ekonomi, politik, dan budaya yang semakin bergejolak di bawah kekuasaan Rusia, maka sesuai pengertian teori postkolonialisme yang menyatakan bahwa negara yang bermodal banyaklah yang berkuasa, dalam hal ini Rusia atau Inggris sebagai penjajah dan Afghanistan sendiri sebagai yang terjajah.
            Sebuah masa lalu yang telah terkubur dalam-dalam namun masih selalu dalam ingatan warga Afghanistan, 26 tahun silam tentang kejamnya penjajahan yang terjadi saat itu. Melekat erat dalam ingatan Amir saat berusia 12 tahun di musim dingin 1975 tentang kebiadaban para komunis yang dengan kejam menjajah negara Pakistan tercintanya “Masih ku ingat dengan jelas, saat aku berlutut di balik reruntuhan tembok lempung, mengintip gang sempit yang memanjang di dekat sungai yang membeku. Peristiwa itu telah lama berlalu, tapi pengalamanku selama ini menunjukkan bahwa kita tak akan pernah bisa mengubur masa lalu. Karena bagaimana pun akan selalu menyeruak mencari jalan keluar (hal. 13).”
               Selain itu diceritakan pula tentang kebengisan para komunis yang sedang asyik memporak porandakan negeri Pakistan ini dengan persenjataan yang mereka miliki “Bunyi sirine terdengar dari kejauhan. Dari arah lain, terdengar suara kaca pecah dan seorang berteriak. Aku mendengar orang-orang dijalanan, mereka terbangun dari tidurnya dan mungkin masih mengenakan piama, dengan rambut kusut dan mata sembap (hal. 57).” Dengan santainya mereka melakukan hal keji itu tanpa memperdulikan nasib kami, orang tua kami dan warga lainnya atas kepedihan yang kami rasakan ini. Anak-anak Afghanistan seakan sudah tak asing lagi mendengarkan bunyi bom dan tembakan yang tak henti-hentinya itu. Betapa mengerikannya kondisi saat itu.
               Biasanya posisi kaum terjajah adalah inferior, sedangkan penjajah adalah superior. Pihak inferior sering “bisu” karena harus menurut terhadap kehendak superior. Budaya kaum penjajah sering memaksakan kehendak yang terjajah. Dalam hal ini, Inggris atau Rusia adalah pihak superior, di mana dapat berkehendak semau mereka terhadap Pakistan yang tak lain sebagai inferior. Mereka terpaksa menuruti semua kehendak penjajah demi mempertahankan hidup mereka, namun terkadang tetap saja hal ini tidak berlaku. Mereka, para komunis tak pernah merasa iba akan penderitaan yang dialami warga Afghanistan saat itu “Akhir yang sebenarnya terjadi pada April 1978 saat kaum komunis melakukan kudeta, lalu pada Desember 1979, saat tank-tank Rusia berjalan melewati jalanan kota tempat aku dan Hassan biasa bermain, mengambil nyawa orang-orang Afghanistan yang kukenal dan memulai masa-masa pertumpahan darah yang terus berlangsung hingga sekarang (hal. 57).” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekuatan memang akan selalu bermain dalam kancah kolonialisme. Kutipan di atas menggambarkan keadaan masa kolonoal di Afghanistan dulu.
               Kriteria kolonialisme bisa berarti berlaku zaman penjajahan dulu secara politis, yaitu ketika sebuah negara menduduki dan menguasai negara lain. Sedangkan di masa kini dapat dimaknai sebagai kolonial gaya baru (neokolonial) karena negara bekas penjajah seringkali masih menguasai negara bekas jajahan dari segi ekonomi dan budaya. Afghanistan adalah salah satu contohnya. Sampai saat ini kaum Zionis masih saja melakukan tindakan-tindakan yang termasuk pada penjajahan juga, seperti pemboman wilayah-wilayah di Afghanistan yang menelan banyak korban. Mereka ingin melebarkan sayap kekuasaan di negara ini.
               Namun demikian, secara mendasar kajian postkolonial dari awal ditujukan untuk mempelajari barbagai akibat penjajahan. Salah satu pascakolonial adalah migrasi orang-orang dari negara bekas jajahan ke negara jajahannya. Seperti dalam kutipan di bawah ini yang menceritakan bahwa Baba, seorang warga Afghanistan dan anaknya Amir yang mengungsi ke Amerika “Baba tergila-gila pada gagasan tentang Amerika. Tetapi hidup di Amerika-lah yang membuatnya terjangkit maag” (hal.175). Dengan hidup di Amerika, otomatis Baba dan Amir harus menyesuaikan budaya dan segala peraturan yang berlaku di Amerika agar tidak terjadi culture-shock. Namun, nampaknya Baba mengalami benturan budaya yang hebat, karena baru pertama kali tinggal di Amerika dan terpaksa hidup di negara ini, mengungsi dari Afghanistan yang sedang kacau balau di jajah Inggris dan Rusia “Ayah saya masih menyesuaikan diri dengan kehidupan di Amerika, “kataku, berusaha menjelaskan.” (hal.177)
               Secara khusus, kelangsungan hidup negara Afghanistan sangat bergantung pada patronase Soviet. Akibatnya, pemerintah sangat menentang gerakan Islam, sedangkan kelompok komunis terutama partai-partai Marxis pro Soviet diberi kebebasan. Raja Zhahir Syah (memerintah 1933-1973) pendukung Marxis pro-Soviet dan pihak kerajaa, melakukan kudeta militer, menghapuskan monarki, dan mengumumkan dirinya sebagai Presiden Republik Afghanistan (1973-1978). Setelah kedatangan Rusia inilah, Amir dan keluarganya mengungsi ke Amerika, seperti pada kutipan “Penumpang lainnya, seluruhnya berjumlah sekitar 12 orang, termasuk aku dan Baba, duduk dengan koper, berjejalan dengan orang-orang tak dikenal dalam bak belakang beratap terpal sebuah truk Rusia (hal. 153).” Amir dan Baba atau bahkan yang lainnya harus terbiasa dengan budaya dan adat yang berlaku di Amerika. Sungguh terasa berat sekali bagi Baba untuk melaluinya. Dia harus rela kehilangan harta bendanya, pangkat dan jabatannya saat di Kabul dahulu sebagai seseorang yang sangat disegani dan dikagumi oleh sebagian warga Kabul. Namun semua itu seakan tak berarti di mata para Komunis, Rusia dan Inggris, sebab kedudukan mereka dianggap lebih tinggi dan berkuasa. Afghanistan sebagai inferiornya sedangkan Rusia dan Inggris adalah sebagai superiornya, antara yang menjajah dan terjajah.
               Afghanistan telah mengalami proses akumulasi sejarah yang sangat kompleks, khususnya dalam hal kebudayaan dan politik, terutama dalam memadukan antara kekuatan Persia dan Turki. Pada tahun 1970-an Afghanistan masih merupakan negara yang tradisional dibanding negara-negara muslim lainnya di Asia. Di tahun 1960-1970-an ini adalah ketika program pembangun ekonomi gagal dan korupsi dalam pembangunan merajalela. Para pemimpin Afghanistan sibuk memperkenalkan pemerintahan model Barat ini guna menyenangkan patron-patron asing mereka, dengan tanpa memberikan pelayanan sosial dan memenuhi kebutuhan warga negara secara adil (Ajid Thohir, 2009:199 &207).
               Tradisi postkolonial mengenal dua kunci utama pemahaman budaya: pertama, dominasi-subordinasi. Isu dominasi dan subordinasi muncul berkenaan dengan kontrol militer kolonial genocide dan keterbelakangan ekonomi. Keduanya tak hanya terjadi antara negara dan etnis, tetapi juga antar negara dengan negara, etnis dengan etnis, tetapi juga antar negara dengan negara, etnis dengan etnis. Bahkan, pada gilirannya dengan sistem kolonial yang aristokrat telah mengubah subordinasi dan dominasi individu kepada individu lain. Jika hal ini terjadi, maka hubungan atas-bawahan, patron-clien, majikan-buruh akan selalu ada.
               Khaled Hosseini menggambarkan sebuah hubungan yang harmonis antara Baba dan Ali, tapi menunjukkan perbedaan jelas antara keduanya, Pashtun dan Hazara, dan sebagai penganut yang berbeda, yaitu Syi’ah dan Sunni, persinggungan pluralisme budaya yang menyuguhkan persoalan etnis, sehingga menarik bagi paham postkolonialisme. Kaum Hazara dianggap begitu rendah kedudukannya dalam strata sosial jika dibandingkan dengan kaum Pashtun atau antara Syi’ah dan Sunni. Di sini tertera jelas akan adanya perbedaan antara kubu Syi’ah dan Sunni, Pashtun dan Hazara, karena bangsa Pakistan ini berasal dari keturunan berbagai etnik, seperti Arab, Persia, Turki dan Mongol. Mereka terbagi menjadi berbagai kelompok suku, Pashtun (38%), Tazdik (25%), Hazara (25%), serta suku-suku kecil lainnya seperti Uzbek, Aibaks, Turkman, Baloch dan lainnya (Ajid Thohir, 2009:200).
            Afghanistan dianggap negeri terpanas pada abad ke-21 ini dalam urusan domestik, karena sejak merdeka dari Inggris pada tanggal 19 Agustus 1919, Afghanistan tak lekang dari barbagai pertikaian ideologi etnik (Ajid Thohir, 2009:207). Perkembanngan politik saat itu semakin bergejolak di Afghanistan. Penggulungan monarki dengan sebuah kudeta militer terjadi saat itu. Negerinya dalam keadaan kacau balau atas pertikaian yang terjadi antar kelompok etnis serta saat kaum komunis melakukan kudeta, seperti kaum Syi’ah dan Sunni yang digambarkan dalam novel ini.
            Dalam hubungan ini, teori postkolonialisme dapat menjelaskan mengapa negara ini atau negara lain yang sama-sama baru merdeka ternyata mengalami perkembangan lebih pesat “Beberapa tahun selanjutnya, kata-kata perkembangan ekonomi dan reformasi jamak meluncur dari bibir-bibir warga Kabul. Bentuk pemerintahan monarki telah diabolisi, digantikan oleh republik, yang diimpin oleh seorang presiden. Untuk sementara, semangat pembaruan dan penetapan tujuan baru melanda seluruh negeri. Semua orang membicarakan hak-hak perempuan dan teknologi modern (hal. 66).”       
         Pascakolonial di Afghanistan tampaknya membawa banyak perubahan bagi Afghanistan sendiri. Contohnya dengan banyak diterbitkannya karya sastra yang bertemakan perjuangan, perlawanan, dan sindiran-sindiran untuk menjadikan Afghanistan ke arah lebih baik. “The Kite Runner” mungkin adalah salah satu diantaranya yang berisikan tentang potret nyata Afghanistan 30 tahun yang lalu. Berkisah tentang perjuangan orang-orang biasa dalam menghadapi terpaan sejarah yang memporak-porandakan kehidupan. Novel ini tergolong karya paska kolonial. Tak hanya bisa mewakili dua budaya yang berbeda, Timur-Barat, namun sekaligus menjadi benturan culture-shock.
       Melalui tokoh Hasaan dan Amir, penulis berusaha memberi tahu pembaca bahwa untuk menjadi “Inggris” identitas mantan penjajah mereka, dengan melakukan praktik-praktik budaya metropolis agar bisa diterima oleh masyarakat Inggris, namun di sisi lain mereka pada dasarnya tidak dapat begitu saja meninggalkan budaya Timur yang mereka (Inggris) yakini dan praktikkan sejak mereka berada di Pakistan “Aku dan Hassan saling memandang. Menahan tawa. Anak India itu akan segera mengetahui satu hal yang dipelajari oleh orang Inggris di awal abd lalu, yang akhirnya dipelajari juga oleh orang Rusia di akhir 1980-an: bahwa penduduk Afghanistan adalah orang-orang merdeka. Penduduk Afghanistan menyukai tradisi namun membenci aturan. Begitu pula dengan adu layang-layang. Aturannya sederhana: tidak ada aturan (hal. 77).” Turnamen adu layang-layang adalah tradisi musim dingin yang sudah dijalankan sejak lama di Afghanistan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan “mempelajari” dan “mempraktikkan” budaya Timur, berarti mereka juga “mengkontaminasi” keInggrisan mereka. Secara teoritis, relasi semacam ini jelas menandakan bahwa hubungan Barat dan Timur, (mantan) terjajah, orang kulit putih dan kulit hitam tidak selalu dalam kerangka oposisi, namun juga mutual.
      Paska kolonial di Afghanistan saat ini menimbulkan pengaruh positif dalam berbagai hal. Misalnya Afghanistan telah melaksanakan upaya reformasi politik dan struktural yang sangat signifikan dengan mengaplikasikan langkah maju menuju stabilitas ekonomi makro, manajemen perhutangan, dan lain-lain. Di samping itu, upaya penanggulangan korupsi dan memperbaiki sistem kepatuhan masyarakat terhadap Undang-Undang pun terus dilaksanakan.
      Namun tak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini negara-negara yang dianggap superior masih tetap mempraktikan kebengisannya terhadap warga muslim di Pakistan tanpa mempertimbangkan pri kemanusiaan lagi. Mereka masih sering melakukan gencatan senjata pada negeri ini, membom beberapa wilayah yang dianggap titik lemah negeri ini, serta mencoba terus memporak-porandakan kehidupan mereka dengan kekuatan yang mereka punya.

REFERENSI
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar