Sosok dan karya intelektual Hamzah Fansuri terus menerus menjadi
perbincangan hangat di kalangan para pengkaji dan pemerhati sufis, sejarah
Islam di Nusantara, dan sejarah sosial intelektual Islam di Indonesia.
Sekalipun, dimunculkan dalam sosok yang dianggap kontroversial karena
pandangan-pandangan atau cara mengekspresikan pandangannya yang berbeda, namun
Hamzah Fansuri tetap memiliki akar sejarah dan intelektual dalam pararelisme
sejarah dan intelektual Islam Indonesia.
Di
bawah ini
disajikan tulisan yang ditulis oleh Nab Bahany AS tentang
“Eksistensi Allah dalam
Syair-Syair Hamzah Fansuri”. Di dalamnya konsepsi Allah dari Hamzah Fasuri
dibedah dari berbagai segi, dan hasilnya adalah konsepsi Allah dari Hamzah
Fansuri tetaplah monoteistik dan tidak keluar dari ajaran Islam mainstream.
“Eksistensi Allah" dalam Syair Hamzah Fansuri
Nab Bahany As
Banyak dari kalangan Sejarawan, Sastrawan, dan Budayawan di berbagai belahan dunia yang menaruh minat untuk mengkaji perkembangan sejarah sosial intelektual Islam di Nusantara. Berbagai dinamika intelektual dan pergulatan sosial-budaya dalam perjalanan sejarah Islam di Nusantara dari zaman ke zaman ini memiliki daya tarik, akar sejarahnya sendiri, dan "semangat zaman"nya sendiri. Di antara tokoh Sufi dan Sastrawan terkenal di Nusantara (dan dunia Melayu) adalah sastrawan klasik dan ulama sufi terkenal dari Aceh, yakni Syeihk Hamzah Fansuri (1607). Dalam sejarahnya ia dikenal sebagai tokoh pelopor lahirnya kesusastraan Melayu Indonesia. Mengenai identitas Syeikh Hamzah Fansuri, sebuah syair yang disusunnya menyebutkan: