Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra Muslim Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra Muslim Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

Pencitraan Allah dalam Syair-Syair Hamzah Fansuri

     Sosok dan karya intelektual Hamzah Fansuri terus menerus menjadi perbincangan hangat di kalangan para pengkaji dan pemerhati sufis, sejarah Islam di Nusantara, dan sejarah sosial intelektual Islam di Indonesia. Sekalipun, dimunculkan dalam sosok yang dianggap kontroversial karena pandangan-pandangan atau cara mengekspresikan pandangannya yang berbeda, namun Hamzah Fansuri tetap memiliki akar sejarah dan intelektual dalam pararelisme sejarah dan intelektual Islam Indonesia. 
      Di bawah ini disajikan tulisan yang ditulis oleh Nab Bahany AS tentang  “Eksistensi Allah dalam Syair-Syair Hamzah Fansuri”. Di dalamnya konsepsi Allah dari Hamzah Fasuri dibedah dari berbagai segi, dan hasilnya adalah konsepsi Allah dari Hamzah Fansuri tetaplah monoteistik dan tidak keluar dari ajaran Islam mainstream.  


“Eksistensi Allah" dalam Syair Hamzah Fansuri
Nab Bahany As

Banyak dari kalangan Sejarawan, Sastrawan, dan Budayawan di berbagai belahan dunia yang menaruh minat untuk mengkaji perkembangan sejarah sosial intelektual Islam di Nusantara. Berbagai dinamika intelektual dan pergulatan sosial-budaya dalam perjalanan sejarah Islam di Nusantara dari zaman ke zaman ini memiliki daya tarik, akar sejarahnya sendiri, dan "semangat zaman"nya sendiri. Di antara tokoh Sufi dan Sastrawan terkenal di Nusantara (dan dunia Melayu) adalah sastrawan klasik dan ulama sufi terkenal dari Aceh, yakni Syeihk Hamzah Fansuri (1607). Dalam sejarahnya ia dikenal sebagai tokoh pelopor lahirnya kesusastraan Melayu Indonesia. Mengenai identitas Syeikh Hamzah Fansuri, sebuah syair yang disusunnya menyebutkan:

Minggu, 06 November 2011

Raja Ali Haji: Gurindam Dua Belas

 

Tokoh ini terkenal sebagai ulama serta budaywan dan sastrawan Melayu terkemuka pada abad 19 dengan karya kaya beraliran Riau. Beliau lahir sekitar tahun 1809 di Pulau Penyengat, sebuah daerah yang dikenal sebagai pusat keilmuan Melayu Islam penting di abad ke 19. Ia wafat dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di pulau Penyengat pada tahun 1872. 
 Raja Ali Haji adalah keturunan bangsawan Bugis yang mendiami Pulau Penyengat, tidak jauh dari Tanjungpinang (Pulau Bintan). Ayahnya bernama Raja Ahmad. Sementara kakeknya bernama Raja Haji, seorang pahlawan Bugis terkenal. Ia tercatat juga pernah menjabat sebagai yamtuan muda (yang dipertuan muda-perdana menteri) ke-4 dalam Kesultanan Johor-Riau. Orang-orang Bugis tiba di kawasan tersebut sekitar abad 18. Pada saat yang bersamaan tengah terjadi perebutan kekuasaan antara para pewaris