Tampilkan postingan dengan label Najib Kilani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Najib Kilani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

HARI YANG DIJANJIKAN: NAJIB KAILANI


Pendahuluan
      Sebagaimana novel karya seorang Dr. Najib Kaelany yang lainya; novel yang satu ini merupakan novel sejarah yang didalamnya terdapat cirri – cirri sejarah kawasan benua Afrika tepatnya Mesir. Mesir adalah salah satu Negara yang dari zaman dahulu telah sedang menjadi pusat peradaban uat islam seluruh dunia. Semenjak runtuhnya babilonia yag pada mulanya seagai pusat peradaban Islam. Sekarang, Mesir telah menjadi Negara yang maju atas tekologi dan keilmuanya, salah satunya adalah karya sastra ini. Banyak sekali sebenarnya karya sastra yang terlahir dari para oenulis creative anak bangsa Mesir; salah satuya adalah Najib Kaelany. Beliau adalah seorang seniman yang berhasil mengangkat kisah – kisah sejarah dalam karyanya [epos sejarah]. Sejarah asli kerajaan Mesir semasa perag salib. Salah satuya adalah novel garapanya yang satu ini yang menceritakan seluk beluk perag salib dilihat dari segi sosialnya.

Selasa, 18 Maret 2014

Bayang-Bayang Hitam, Najib Kailani



Dalam novel ini Najib Kailani mencoba mengungkap nilai-nilai kemanusiaan dari sebuah pergolakan ideology yang terjadi di negeri Ethiopia. Sebuah kegelisahan seorang  Iyasu  yang tidak pernah puas dengan kondisi sekitarnya yang penuh dengan kemunafikan dari para pemuka agama. Sebuah pencarian yang dalam tentang nilai-nilai universal kemanusiaan. Tentang kebebasan beragama, ketenangan, kejujuran, dan tentang agama kebenaran. Pencarian yang akhirnya ia harus terusir dari kekuasaannya karena ia terus berpegang teguh dengan apa yang diyakininya. Dan pada akhirnya pula Ethiopia harus jatuh ke tangan Negara lain, akibat dari ketamakan seorang Tafari, seorang gubernur di salah satu wilayah Ethiopia yang juga seorang kerabat kekaisaran. Karena dia tidak setuju dengan usulan-usulan kaisar muda yang memberikan kebebasan beragama bagi rakyatnya.
Perang Dunia I sudah lama berakhir. Dia telah menjadi bagian dari sejarah. Paling tidak, ia menjadi saksi atas kekalahan Turki melawan Negara-negara sekutu yang menyebabkan negeri tua itu runtuh pada tahun 1924 M. di tangan Sultan Abdul Hamid II Turki mengalami kehancuran yang disebabkan oleh Mustafa Kemal At- Taturk. Namun, jauh sebelum itu ia telah menjadi singa ompong yang hanya mampu menkaut-nakuti orang saja. Banyak pejabatnya yang korup dan sudah tidak memperhatikan rakyatnya. Yang mereka pikirkan hanyalah kesenangan diri dan keluarga masing-masing. Dan rasanya tidak ada yang patut dicontoh dari semua ketamakan itu, dan tidak pula patut untuk dikenang dari semua kepahitan itu selain pelajaran. Dan inilah yang dengan baik ingin diungkap dan diberikan oleh Najib Kailani dari novelnya. Secara tidak langsung, dengan berkaca pada peristiwa-peristiwa di atas Najib Kailani mencoba menggambarkannya dalam novel yang berjudul Bayang-Bayang Hitam.

Senin, 22 April 2013

Membaca Ulang Dunia Timur Lewat Karya Najib Kilani dalam "Melodi Kaki Langit"

 
Sumber Gambar: 
http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Spiritualitas/105047-Melodi-Kaki-Langit.html


 
Latar Belakang Masalah 
           Karya sastra adalah hasil pengejawatahan berpikir kreatif-imajinatif seorang pengarang atas realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya, baik yang memiliki hubungan sebab akibat langsung terhadap dirinya maupun yang terjadi di luar dirinya dan dituangkan dalam media yang dikehendakinya pula. Ia juga terkait dengan proses pengelolaan pengembaraan emosional dan imajinasi terhadap segala yang dirasa dan dialami dalam kehidupan fisik dan batinnya. Begitu pula dengan ide dan gagasan pengarang. Bersandar pada teori mimetik dan atau homologus, imajinasi pengarang lahir dari kondisi sosial yang dialami oleh pengarang itu sendiri, maka dari itu karya sastra yang dibuat seorang pengarang tentunya bersandar dan mencerminkan pada kenyataan sosial pada saat karya itu dibuat. Jika karya tersebut lahir dalam kondisi sosial yang baik maka karya sastra yang dihasilkannya akan baik pula, dan jika karya sastra tersebut lahir dalam kondisi sosial yang buruk maka karya sastra yang lahir akan buruk pula. Karya sastra dapat diposisikan sebagai representasi dari nilai, norma, dan tata perilaku dari masyarakat yang mengitarinya. 
          Sebuah karya sastra juga memiliki peran yang penting dalam masyarakat, selain merupakan refleksi dari kondisi sosial masyarakat, karya sastra juga memiliki kemampuan untuk menggugah perasaan orang lain untuk berpikir tentang kehidupan dan permasalahannya. Membangun sebuah konsep pemikiran melalui karya sastra ternyata mampu memberikan ruang kepada para pembaca untuk menelisik karya itu tidak hanya mengenai struktur dalam pembangunnya namun juga segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala-gejala kemasyarakatan yang melingkupinya. Berbagai ideologi kemudian ditawarkan, salah satunya adalah wacana orientalisme yang dibangun Barat, yang kemudian membentuk konsep Barat yang dinamis dan Timur yang statis. Konsep Timur bukan lagi hanya menjadi bentukan letak geografis melainkan juga menjadi bentukan secara kultural, bahwa yang disebut Timur adalah konsep semua yang ada diluar peradaban Barat. Konsep Timur adalah sesuatu yang misterius namun juga segala sesuatu itu masih orisinil sehingga lebih dekat pada konsep surgawi. Dengan konsep itu pula muncul wacana East as the Paradise.