Tampilkan postingan dengan label Hafiz al-Syirazi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hafiz al-Syirazi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

Engkau Bersama Sang Sahabat Sekarang

Aku Berharap, 
Aku mampu menunjukkan kepadamu, 
Ketika engkau kesepian, atau berada dalam kegelapan
Cahaya Mempesona Wujudmu Sendiri

(Hafidz al-Syirazi)

     Pada penggalan puisi di atas, Hafidz menggambarkan sebagian persiapan yang dibutuhkan untuk "Perjalanan Cinta" ruhaniyah, yakni sahabat (atau lebih utamanya adalah mursyid [sang guru]. Tanpa kehadiran sang guru, yang juga memosisikan diri sebagai sahabat, perjalanan menuju Sang Kekasih, akan sangat mungkin tidak terarah, terjal, dan tersesat. Oleh karena itu, keberadaan sang guru diperlukan sebagai pembimbing dan penunjuk jalan. Pada bagian lain, Dia mendesak kita untuk membuang perilaku-perilaku negatif yang telah menjadi kebiasaan dan sifat-isfat yang tidak perlu, yang hanya akan membebani diri kita. Untuk melakukan perjalanan ini, kita harus ringan, senang dan bebas untuk menari (menapaki perjalanan Cinta menuju sang Khalik)

Sumber:
  1. Daniel Ladinsky, Hafidz: Aku Mendengar Tuhan Tertawa, Surabaya: Risalah Gusti, 2005.

Sabtu, 15 September 2012

Konvensi Puitis Persia: Hafidz

Konvensi-Konvensi Puitis Persia

      Sastra Muslim masa klasik pada masa awal menunjukkan dominasi Bahasa Arab sebagai "bahasa dunia sastra Muslim". Hal ini disebabkan banyak faktor, yakni a) al-Qur'an turun dalam bahasa Arab, b) para penguasa politik yang menguasai dunia Arab dan non-Arab berasal dari kalangan Arab (khususnya Quraish), sehingga bahasa resmi negara pun adalah bahasa Arab, didasarkan pada determinasi dan hegemoni bangsa Arab. Hal ini berlaku sejak jaman Khulafa al-Rasyidun, masa Umayyah, dan masa Abbasiah awal; c) terkait dengan penyebaran bahasa [dan budaya] Arab, Bani Umayyah memiliki peranan penting, karena kekuasaan Bani Umayyah melakukan Arabization yang intensif, sehingga beberapa wilayah seperti Palestina, Iran, Mesir, dan Afrika Utara banyak yang terarabkan, baik dari segi bahasa maupun budaya.

Selasa, 28 Agustus 2012

Selembar Undangan Ilahi: Hafidz

Selembar Undangan Ilahi 

---- Hafidz al-Syirazi---

 Engkau telah diundang untuk menemui sang Sahabat
Tak seorang pun mampu menolak undangan Ilahi

Hanya dua pilihan tersisa untuk kita sekarang:

Kita penuhi undangan Tuhan, 
Bergegas untuk menari

atau
Dibawa di atas usungan 
menuju Bangsal-Nya.

Kamis, 27 Oktober 2011

Hafiz al-Shirazi


     Alih-alih menyoal tentang popularitas dari Hafidz, informasi tentang detil-detil biografi Hafidz ini kurang lengkap. Namun, memori kolektif orang-orang Persia [Iran] masih menyisakan nama Hafidz ini sebagai salah satu tokoh besar dalam keilmuan, kesusasteraan, dan kesufian.
    Beberapa informasi mengenai Hafidz dapat disajikan sebagai berikut:         
  1. Hafiz/Hafez (penyair)  atau Khwajeh Shams al-Din Muhammad Hafez-e Shirazi (خواجه شمس‌الدین محمد حافظ شیرازی dalam Bahasa Persia)lahir sekitar tahun 1320 M di Syraz, sebuah kota indah di Persia Selatan. Kota ini, pada saat itu, merupakan salah satu kota yang selamat dari serangan-serangan invasi bangsa Mongol dan Tartar, selama periode sejarah kelam umat Islam. Dia menghabiskan hampir seluruh kehidupannya di kota taman yang berbudaya ini. Hafidz wafat pada tahun 1388/1389 M.
  2. Kehidupan Hafidz berada pada keluarga biasa, namun religius. Dia adalah anak bungsu dari tiga laki-laki dalam keluarga tersebut. Ayahnya penjual batu bara, yang meninggal ketika Hafidz berusia sebelas tahun. Sepeninggal ayahnya, Hafidz bekerja sebagai penjual roti, yang sebagian penghasilannya ia sisihkan untuk membiaya pendidikannya. Selama bertahun-tahun, ia belajar  untuk menguasai ilmu-ilmu klasik, yakni al-Qur'an, grammatika Arab, teologi, metafisika, logika, matematika, astronomi, sastra, kaligrafi dan sufisme. Salah satu kompetensi yang dimiliki olehnya adalah keahlian dalam kaligrafi, yang mengantarkannya menjadi salah satu kaligrafer, perancang sketsa, dan penalin naskah profesional pada zamannya.
  3. Ia banyak mempelajari karya-karya dari Sa'di al-Syirazi, Farid al-Din al-Aththar, dan Jalaluddin Rumi. Karenanya, wajar apabila dalam karya-karya Hafidz terdapat berbagai serpihan dari karya-karya tokoh-tokoh sebelumnya. Ketika puisi-puisinya mulai dikenal, ia pun kemudian berpatronase dengan beberapa penyair dan penguasa lokal; karenanya, ia pun dikenal sebagai penyair istana. Ia pun kemudian mengajar pada beberapa madrasah dan al-Jamiah yang ada di Syiraz.
  4. Beberapa karyanya (puisi dan prosanya) menunjukkan kekritisan Hafiz terhadap kekuasaan yang saat itu dipenuhi friksi dan korup, yang pada saatnya dijadikan alasan para penguasa untuk menyingkirkan Hafidz dari lingkaran Istana. Beberapa kali Hafidz dibuang (diasingkan) dan keluar dari Syiraz. Puncaknya adalah ketika ia kehilangan anak satu-satunya, ketika mereka pada masa buangan. Kehilangan anaknya ini telah "memukul" Hafidz pada kesedihan mendalam. Namun, pada sisi lain, kehilangan ini merupakan "titik picu" dari produktivitas karya-karyanya. 
  5. Ia dikenal sebagai tokoh mistik dan penyair Iran. kadang-kadang disebut juga "Hafiz dari Shiraz". Terlahir dengan nama Syamsy al-Din Muhammad, namun kemudian al-Hafidz dipilihnya ketika ia mulai menulis karya-karyanya, sebagai nama sebagai bentuk keta'dzimannya pada kebesaran al-Hafiz (1149 M), Khalifah kesebelas dari dinasti Fatimiah. Melihat dari periode kahidupannya, ia dimungkinkan sezaman dengan salah satu pujangga besar Inggris, yakni Geoffrey Chaucer. Geoffrey Chaucer (kemungkinan besar London, 1343 – 25 Oktober 1400) adalah seorang sastrawan, penyair, filsuf, diplomat dan birokrat Inggris. Ia seringkali disebut sebagai bapak Sastra Inggris. Meski Chaucer menulis banyak karya, karyanya yang ternama adalah cerita bingkainya The Canterbury Tales yang tidak selesia. Ia kadangkala dianggap sebagai penulis pertama yang menunjukkan kekuatan bahasa Inggris untuk menulis karya sastra dan tidak menggunakan bahasa Perancis atau bahasa Latin. 


Bandung, 27 Oktober 2011
Dadan Rusmana