Janganlah kalian mencintai kekuasaan, karena hal itu bisa membuatmu rendah. Seorang ulama tidak akan menghiraukan kekuasaan, kecuali yang telah menjadi makelar. Jika kekuasaan telah membuatmu senang, maka hilanglah jati dirimu.”
Itulah
di antara isi surat nasihat yang ditulis oleh seorang ulama hadits yang menjadi
rujukan utama di zamannya. Beliaulah Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin
Abdillah, atau biasa dengan panggilan akrab beliau Sufyan al-Tsauri.
Ketegasan
ulama kelahiran Kufah tahun 77 Hijriyah terhadap kezhaliman penguasa,
membawanya kepada sebuah pelarian yang melelahkan. Walaupun, hal itu tidak
membuatnya lalai untuk mencari hadits dan mengajarkannya kepada murid-murid
yang ia bina.