Tampilkan postingan dengan label Sejarah Sastra Muslim klasik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Sastra Muslim klasik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Cinta Abadi Layla-Maznun Karya Syeikh Nizami


Aku baru saja berdiri dari tempat duduk ketika kusadari mataku basah oleh sedikit rembesan air mata. Sebuah buku telah menghisapku sedemikian dalam ke seluruh pori-pori katanya, membuat apa yang terkatakan menjadi tak terkatakan, dan menjadikan waktu dan detak jantung seperti sepakat untuk berhenti bersama. Aku tahu ini hanyalah fiksi, cerita yang telah menjadi sebuah legenda dari masa ke masa, namun bagi otak bawah sadarku ini adalah fakta yang nyata. Toh, apalah arti fakta dan fiksi di bawah dunia fana ini—yang barangkali hanyalah “rekaan” bagi pikiran Dia Sang Maha di langit sana?


Itulah sejumput kutipan dari buku Layla Majnun, yang bukanlah sebuah buku biasa. Tadi sore tanpa sengaja aku memilihnya, ketika aku hendak mengembalikan buku ke perpustakan. Tak terpikirkan olehku bahwa aku akan membaca novel yang judulnya sudah lama kutahu itu, dan bagiku tampak klise. Aku menyadari bahwa sangkaanku salah: buku ini—jika kau pernah membacanya, sebaiknya kau tak beranjak sedikit pun sampai kau benar-benar mengkhatamkannya.
Terpujilah untuk penerjemah dan penyunting buku ini, yang berhasil menyuguhkan suatu bacaan yang sangat hidup dan “sempurna” ke sidang pembacanya. Kalian berdua adalah pasangan serasi, ibarat Majnun dan Layla. Terpujilah untuk penerbit buku ini, yang mau menerbitkan buku yang akan memperkaya khazanah

Rabu, 19 Oktober 2011

Madah Cinta Jalal al-Din al-Rumi dalam Film Ketika Cinta Bertasbih

         Jalal al-Din al-Rumi merupakan salah satu sufi-penyair terbaik yang pernah lahir di muka bumi ini. Jasad sang sufi-penyair ini bisa saja kini telah hilang menyatu dengan unsur-unsur bumi, dan ruhnya telah kembali ke haribaan Ilahi Rabbi sembari terus mengumandangkan madah (pujian)-cinta untuk sang kekasih dari dulu hingga kini. Madahnya selalu saja tersenandungkan lewat para pencintanya dengan berbagai ekspresi emosi, waktu, dan ruang. Salah satunya adalah terdapat beberapa bait syair dari Jalal al-Din al-Rumi yang dibaca oleh beberapa pemeran utama dalam film Ketika  Cinta Bertasbih. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Cinta adalah kekuatan,
yang mampu mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah jadi muhibbah,
itulah cinta..
(Petikan Syair Cinta Rumi ini diadaptasi dari Matsnawi 
dan dibacakan oleh Ayyatul Husna)
—–

Sabtu, 17 September 2011

Sufyan al-Tsauri: Kritik Pada Kekuasaan


Janganlah kalian mencintai kekuasaan, karena hal itu bisa membuatmu rendah. Seorang ulama tidak akan menghiraukan kekuasaan, kecuali yang telah menjadi makelar. Jika kekuasaan telah membuatmu senang, maka hilanglah jati dirimu.”

Itulah di antara isi surat nasihat yang ditulis oleh seorang ulama hadits yang menjadi rujukan utama di zamannya. Beliaulah Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin Abdillah, atau biasa dengan panggilan akrab beliau Sufyan al-Tsauri.
Ketegasan ulama kelahiran Kufah tahun 77 Hijriyah terhadap kezhaliman penguasa, membawanya kepada sebuah pelarian yang melelahkan. Walaupun, hal itu tidak membuatnya lalai untuk mencari hadits dan mengajarkannya kepada murid-murid yang ia bina.