Aku
baru saja berdiri dari tempat duduk ketika kusadari mataku basah oleh sedikit
rembesan air mata. Sebuah buku telah menghisapku sedemikian dalam ke seluruh
pori-pori katanya, membuat apa yang terkatakan menjadi tak terkatakan, dan
menjadikan waktu dan detak jantung seperti sepakat untuk berhenti bersama. Aku
tahu ini hanyalah fiksi, cerita yang telah menjadi sebuah legenda dari masa ke
masa, namun bagi otak bawah sadarku ini adalah fakta yang nyata. Toh, apalah
arti fakta dan fiksi di bawah dunia fana ini—yang barangkali hanyalah “rekaan”
bagi pikiran Dia Sang Maha di langit sana?
Itulah sejumput kutipan dari buku Layla Majnun, yang bukanlah sebuah buku biasa. Tadi sore tanpa sengaja aku
memilihnya, ketika aku hendak mengembalikan buku ke perpustakan. Tak
terpikirkan olehku bahwa aku akan membaca novel yang judulnya sudah lama kutahu
itu, dan bagiku tampak klise. Aku menyadari bahwa sangkaanku salah: buku
ini—jika kau pernah membacanya, sebaiknya kau tak beranjak sedikit pun sampai
kau benar-benar mengkhatamkannya.
Terpujilah untuk penerjemah dan penyunting buku ini, yang berhasil
menyuguhkan suatu bacaan yang sangat hidup dan “sempurna” ke sidang pembacanya.
Kalian berdua adalah pasangan serasi, ibarat Majnun dan Layla. Terpujilah untuk
penerbit buku ini, yang mau menerbitkan buku yang akan memperkaya khazanah