Senin, 23 Mei 2011

Perkembangan Sastra Pada Masa Bani Abbasiah

Oleh: Dadan Rusmana


Meretas Jalan Menuju Kekuasaan
       Masa kekhalifahan Abbasiah merupakan masa kekhalifahan terlama pada masa sejarah muslim klasik, yakni dari tahun 750-1258 M. Masa ini pun seringkali diklaim sebagai masa keemasan atau kegemilangan politik muslim Kekuasaannya membentang luas di Asia dan Afrika atau sekitar 2/3 dunia. Kekuasaan Dinasti ini adalah melanjutkan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbass. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258 M.
      Masa Bani Abbasiyah sering disebut-sebut sebagai Masa Keemasan Islam, pada masa ini geliat intelektual dan perkembangan peradaban Islam mencapai puncaknya termasuk kajian tentang sastra pada masa ini juga mengalami perkembangan, hal itu dikarenakan beberapa factor, diantaranya adanya dukungan dari pemerintah untuk mengembangan kegiatan intelektual, salah satu bentuk apresiasi pemerintah adalah dengan di dirikannya lembaga penerjemahan Darul Hikmah. Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ‘Ajam (non Arab).

Faktor Perkembangan Sastra

      Kekhalifahan Abbasiyah dianggap sebagai masa keemasan islam (the golden age) baik dalam bidang politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan segala bidang lainnya mengalami kemajuan pesat daripada masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah di bidang sastra. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.
Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik puisi maupun prosa. Wilayah kajian sastra tidak hanya puisi dan prosa tetapi sudah meluas dalam bidang karya tulis lainnya. Sastrawan pada masa ini dianggap sebagai gudangnya ilmu pengetahuan.  
      Masa keemasan Abbasiah pada berbagai bidang membawa kemajuan pesat dalam bidang sastra. Saat ini dapat dikatakan pula sebagai masa keemasan kesusastraan Muslim masa klasik. Heterogintas etnis, suku bangsa, dan bahasa yang ada dalam naungan dinasti ini telah membawa pada heterogonitas bahasa dan bentuk sastra. Heterogenitas ini membawa pada kekayaan khazanah Islam pada masa ini. Saat ini, popularitas bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara semakin menyebar, tetapi mendapatkan penyeimbangnya dari bahasa-bahasa penduduk lainnya, seperti bahasa Persia, Turki, dan India. Hanya saja, dalam sudut pandang para linguist Arab, masa ini merupakan titik awal masa kemunduran bahasa Arab karena secara sosial terjadi kemajemukan dalam struktur masyarakat, sehingga gharizah (watak) kebahasaan bangsa arab mengalami kemunduran,
     Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadi perkembangan dunia sastra pada masa dinasti Abbasiyah, yakni 1) stabilitas politik, 2) kemajuan sektor ekonomi (kesejahteraan masyarakat), 3) Berkembangnya sistem pendidikan dan meningkatnya semangat pengembangan ilmu pengetahuan, 4) interaksi antar budaya dan peradaban yang semakin meningkat, dan 5) Popularitas para sastrawan, 6) kualitas karya sastra semakin meningkat,  dan 7) perkembangan variasi genre sastra, 8) apresiasi masyarakat dan pemerintah yang tinggi terhadap karya sastra. 
     Ketika Daulah Abasiyah memegang tampuk kekuasaan tertinggi islam, terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, pada porsi tertentu antara politik dan sastra saling mempengaruhi. Pergeseran paling fundamental terjadi ketika pusat kekuasaaan dipindahkan dari Damaskus dengan tradisi arab kental ke Baghdad dengan tradisi Parsinya. Pada masa ini seluruh sistem pemerintahan dan kekuasaan politik dipengaruhi peradaban Sasaniyah Parsi dimana khalifah berkuasa mutlak dan memimpin seluruh struktur pemerintahan mulai dari menteri, pengadilan, sampai panglima prajurit.
     Puncak kekuasaanpun tidak lagi terbatas pada keturunan arab. Kondisi politik seperti ini sangat mungkin memepengaruhi perkembangan aktivitas sastra ketika itu, karena para syua’ra adalah orang terdekat khalifah di lingkungan istana setelah menteri dan struktur pemerintah lainnya.
       Di saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah, wilayah geografis dunia islam membentang dari timur ke barat, meliputi Mesir, Sudan, Syam, Jazirah Arab, Iraq, Parsi sampai ke Cina. Kondisi ini mengantarkan terjadinya interaksi intensif penduduk setiap daerah dengan daerah lainnya. Interaksi ini memungkinkan proses asimilasi budaya dan peradaban setiap daerah. Nyanyian dan musik menjadi tren dan style kehidupan bangsawan dan pemuka istana era Abbasiyah. Anak-anak khalifah diberikan les khusus supaya pintar dan cakap dalam mendendangkan suara mereka. Seniman-seniman terkenal bermunculan pada masa ini diantaranya Ibrahim bin Mahdi, Ibrahim al Mosuly dan anaknya Ishaq. Lingkungan istana berubah dan dipengaruhi nuansa Borjuis mulai dari pakaian, makanan, dan hadirnya pelyan-pelayan wanita. Dalam sebuah riwayat disebutkan Harun ar-Rasyid memiliki seribu pelayan wanita di istananya dengan berbagai keahlian.
         Pengaruh budaya seperti ini berkembang tidak di seluruh negeri tapi hanya di lingkungan istana dan petinggi-petingi negara, adapun masyarakat umum berada dalam beragam kondisi perubahan sosial, bahkan dari kelas masyarakat umum muncul gerakan menentang perilaku dan tradisi jahili yang berkembang di lingkungan istana dikenal dengan nama “Harakah al Zuhd“.
     Faktor lain berkembangnya peradaban di era Abbasiyah ditandai dengan bergeliatnya aktivitas intelektual masyarakat islam. Kegiatan intelektual seolah-olah menjadi makanan wajib. Kondisi ini dipengaruhi terbukanya pintu intelektual islam dengan masyarakat dunia lainnya. Pemerintah sangat mendukung semua aktivitas keilmuan hal itu di realisasikan dengan pendirina pusat penterjemahan literatur asing ke Bahasa Arab. Al-Mansur adalah khalifah pertama menggiatkan aktivitas astronomi dan menetapkan kegiatan kerja kerajaan mengacu pada hukum-hukum astronomi. Abu Ja’far al Mansur juga khalifah pertama yang menerjemahkan literatur asing ke bahasa arab diantaranya karya-karya Aristoteles, buku Sanad India dan berbagai literatur lainnya.
    Bait al-Hikmah di masa Harun al-Rasyid telah menjadi pustaka dunia yang menyimpan beribu-ribu literatur asing Romawi, Yunani, Parsi dan India kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Kemajuan ini diikuti dengan lahirnya ribuan Ulama dan sastrawan. Baghdad berubah menjadi mercusuar peradaban dan tujuan cendikiawan dan pencari ilmu dari seluruh pelosok negeri. Kita kenal Khalil bin Ahmad al Farahidy sebagai peletak pertama Mu’jam Lughawy dengan kitabnya Mu’jam al ‘Ain. Dalam ilmu Fiqh, lahir Abu Hanifah, Malik bin Anas, al-Syafii, dan Ahmad bin Hanbal.  Dalam kajian sejarah, Ibnu Sa’ad dengan karyanya al Tabaqat al Qubra, Akhbar al Khulafa’. Pendek kata semua lini keilmuan mengalami perkembangan yang sangat pesat.
       Faktor politik, sosial dan arus intelektualisme yang tumbuh dan berkembang pesat sudah tentu mempengaruhi aspek-aspek penting dalam kehidupan sastra masa itu. Khususnya dalam Syair, setidaknya dikenal dalam literatur Adab Abasiyah bermacam-macam Agrad (tujuan/orientasi) syair, seperti al Madah (pujian), al Hija’ (sindiran), al Fakhr (pengagungan), ar Rasa’ (ratapan), al Ghazal (rayuan), al Wasfy (pensifatan), az Zuhd (zuhud), al ‘Itab wa al ‘Itizar (teguran dan pembelaan), as Syi’ry al Ta’limy (sya’ir pengajaran), as Syi’ry al Fakahy (sya’ir humor). Pengaruh kebudayaan asing yang hadir dan masuk dalam sastra arab diantaranya buku al Maydan karya Ulan as Sya’uby al Faris, sebuah karya sastra hasil asimilasi dua peradaban besar Arab dan parsi.
        Diantara Syu’ara’ terkenal yang dilahirkan dari rahim peradaban besar ketika itu diantaranya Basyar bin Bard, Abu Nawas, Marwan bin Abi Hafshah, Abu ‘Atahiyah, Muslim bin Walid, Abdullah bin Marwan bin Zaidah, Muhammad bin Hazim al Bahily dan ribuan sastrawan lainnya.
Lingkungan sosial dan intelektual yang dinamis dalam peradaban dan khazanah keilmuwan islam telah mengantarkan perkembangan pesat dalam dunia sastra, tidak saja Syair yang menjadi konsentrasi para aktivis sastra namun juga retorika dalam pidato kenegaraan maupun khutbah Jumat. Pendeknya semua aktivitas intelektual mendapatkan posisi strategis dan berkembang sangat baik dan dinamis pada masa itu. 

Sastrawan Masa Abbasiah
Philip K Hitti dalam bukunya History of The Arabs mengatakan, pada masa itu sastra mulai dikembangkan oleh Abu Uthman Umar bin Bahr Al Jahiz. Ia mendapatkan julukan sebagai guru sastrawan Baghdad. Al Jahiz dikenal dengan karyanya yang berjudul Kitab Al Hayawan (Kitab Hewan). Ini merupakan sebuah antologi anekdot binatang, perpaduan rasa ingin tahu antara fakta dan fiksi. Ia pun menulis karya lain, Kitab Al-Bukhala, yang merupakan kajian tentang karakter manusia.  
 Perkembangan sastra ini kemudian terus berlanjut hingga mencapai masa puncaknya pada sekitar abad ke-10. Bermunculan nama-nama sastrawan yang memiliki pengaruh besar, yaitu Badi Al Zaman Al Hamadhani, Al Tsa'alibi dari Naisabur, dan Al Hariri. Al Hamadhani dikenal sebagai pencipta maqamat, sejenis anekdot yang isinya dikesampingkan oleh penulisnya untuk mengedepankan kemampuan puitisnya. Namun, dari sekitar 400 yang ditulisnya, hanya ada 52 yang masih bisa ditelusuri jejaknya.
Seorang sastrawan lainnya, Al Hariri, lebih jauh mengembangkan maqamat. Ia menjadikan karya-karya Al Hamadhani sebagai model. Melalui maqamat ini, baik Al Hamadhani dan Al Hariri, menyajikan anekdot sebagai alat untuk menyamarkan kritik-kritik sosial terhadap kondisi yang ada di tengah masyarakat.

Menurut Philip K Hitti, sebelum maqamat berkembang, ada sastrawan yang merupakan keturunan langsung Marwan, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah. Sastrawan itu bernama Abu Al Faraj Al Ishbahani. Ia lebih dikenal dengan panggilan Al Ishfahani. Abu Al Faraj tinggal di Aleppo, Suriah, untuk menyelesaikan karya besarnya, Kitab Al Aghni. Ini merupakan sebuah warisan puisi dan sastra yang berharga. Buku ini juga dianggap sebagai sumber utama untuk mengkaji peradaban Islam.
Sejarawan terkenal, Ibnu Khaldun, menyebut karya Abu Al Faraj sebagai catatan resmi bangsa Arab. Bahkan, saking berharganya karya itu, sejumlah figur ternama dalam pemerintahan, seperti Al Hakam dari Andalusia, mengirimkan seribu keping emas kepada Abu Al Faraj sebagai hadiah. Sebelum pertengahan abad ke-10, draf pertama dari sebuah karya yang kemudian dikenal dengan Alf Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam) disusun di Irak. Acuan utama penulisan draf ini dipersiapkan oleh Al Jahsyiyari.
Awalnya, ini merupakan karya Persia klasik, Hazar Afsana. Karya itu berisi beberapa kisah yang berasal dari India. Lalu, Al Jahsyiyari menambahkan kisah-kisah lain dari penutur lokal. Sastrawan lain yang kemudian muncul pada masa Abbasiyah adalah Abu Al Tayyib Ahmad Al Mutanabbi. Banyak kalangan menganggap bahwa ia merupakan sastrawan terbesar.
Abu al-’Ala al-Ma’arri yang hidup antara 973 hingga 1057 Masehi merupakan sosok lainnya. Ia menjadi salah satu rujukan para sarjana Barat. Puisi-puisi yang ia ciptakan menunjukkan adanya perasaan pesimis dan skeptisme pada zaman ia hidup. Perkembangan sastra ini juga memberikan pengaruh kepada Spanyol.
Dalam konteks ini, tak ada penulis Barat yang mengungkapkan ketertarikan Eropa terhadap sastra Arab dalam bentuk yang lebih dramatis dan puitis dibandingkan penyair asal Inggris William Shakespeare. Hal menarik yang diciptakan Shakespeare adalah Pangeran Maroko yang merupakan salah satu tokoh agung dalam The Merchant of Venice. Pangeran Maroko dibuat dengan meniru Sultan Ahmed al-Mansur yang agung yang menunjukkan martabat kerajaan.


Genre Sastra masa Abbasiyah
        Secara garis besar sastra arab dibagi atas dua bagian yaitu prosa dan syair. Prosa terdiri atas atas beberapa bagian, yaitu:
  1. Kisah (Qisshah), Kisah adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun fiktif, yang disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik. Kisah meliputi Hikayat, Qissah Qasirah dan Uqushah. Kisah yang berkembang pada masa abbasiyah tidak hanya terbatas pada cerita keagamaan, tetapi sudah berkaitan dengan hal lain yang lebih luas, seperti kisah filsafat.
  2. Amsal (peribahasa) dan Kata mutiara (al-hikam) adalah ungkapan singkat yang bertujuan memberikan pengarahan dan bimbingan untuk pembinaan kepribadian dan akhlak. Amsal dan kata mutiara pada masa abbasiyah dan sesudahnya lebih menggambarkan pada hal yang berhubungan dengan filsafat, sosial, dan politik. Tokoh terkenal pada masa ini adalah Ibnu al Muqoffal.
  3. Sejarah (tarikh),atau riwayat (sirah) Sejarah atau riwayat mencakup sejarah beberapa negeri dan kisah perjalanan yang dilakukan para tokoh terkenal karya sastra yang terkenal dalam bidang ini antara lain: adalah mu’jam al Buldan (ensiklopedi kota dan negara) oleh Yaqut al Rumi (1179-1229). Tarikh al hindi (sejarah india) oleh al Biruni (w.448 H/ 1048 M). Karya Ilmiah (Abhas ‘Ilmiyyah) Karya ilmiah mencakup berbagai bidang ilmu. Karya terkenal yang berkenaan dengan hal ini adalah kitab al Hawayan (buku tentang hewan).
      Pada masa ini, muncul genre prosa pembaruan (النثرالتجديدي) yang nakhodai oleh Abdullah ibn Muqaffa dan juga prosa lirik yang ditokohi oleh antara lain Al-Jahizh. Salah satu prosa terkenal dari masa ini ialah Kisah Seribu Satu Malam (ألف ليلةوليلة). Dalam dunia puisi juga muncul puisi pembaruan yang ditokohi oleh antara lain Abu Nuwas dan Abul Atahiyah.
     Selain prosa dan puisi, seni korespondensi juga mengalami peningkatan, hal ini karena luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah dari timur ke barat yang tentunya membutuhkan konsolodasi antar wilayah dengan surat-menyurat. Tokoh-tokoh yang terkenal antara lain Abu Al Fida Muhammad bin Al Amid (w 360 H/ 970 M), Abu Ishaq Al Shabi (w 384 H/ 994 M), Al Qadli Al Fadhil (596 H/ 1200 M).


Ciri Umum Sastra Abbasi
     Terdapat beberapa perbedaan yang mendasar antara masa abbasiyah dengan masa-masa sebelumnya khususnya masa umawi, diantaranya adalah :
  1. Tujuan pengungkapan sastra dan orientasi syair mengalami perluasan.
  2. Bahasa, pada masa ini mengalami kemunduran karena asimilasi bangsa arab dengan ajam yang berpengaruh terhadap kualitas kebahasaan serta sering terjadi kesalahan bahasa.
  3. perluasan wilayah kajian sastra yang tidak hanya pada wilayah syair tetapi juga prosa sehingga memunculkan karya-karya novel, buku-buku sastra, riwayat dan hikayat, serta munculnya genre baru النثرالتجديدي.

        Pada masa pemerintahan Islam, musik juga mengalami perkembangan. Para penguasa pemerintahan Islam di Baghdad bahkan pergi ke Kordoba untuk memberikan dukungan kepada musisi dan perkembangan musik di sana. Alat musik pun banyak bermunculan. Bahkan, berkembang di luar wilayah Islam. Misalnya oud, yang berbentuk setengah buah pir, berisi 12 string. Di Italia, oud menjadi il luto. Di Jerman, alat musik menjadi laute. Di Prancis, alat ini menjadi le luth. Di Inggris, ini menjadi lute. Rebab, yang merupakan salah satu bentuk dasar biola, menyebar dari Spanyol ke Eropa dengan nama rebec. Rebana merupakan instrumen musik Arab yang juga diadaptasi oleh dunia Barat. Rebana terbuat dari kayu dan per kamen. Hingga saat ini, rebana masih digunakan di berbagai belahan dunia saat bermusik. Perkembangan musik dan alat musik ini ditopang pula oleh kegiatan yang biasanya diselenggarakan di istana.