Rabu, 12 Oktober 2011

Al-Mutanabbi: "Nabi" Para Sastrawan


Mutanabbi: Gelar Keaagungan
      Nama Mutanabbi berarti "Orang yang Mengaku Nabi". Jika mengacu pada makna umumnya, maka penamaan itu akan bermasalah di kalangan umat Islam yang berkeyakinan bahwa "tiada nabi dan rasul setelah wafatnya Rasulullah saw.", Sebagaimana halnya pengakuan Musailamah al-Kazzab yang memproklamirkan dirinya sebagai Nabi, hal itu telah membuat geger kaum muslimin pada saat itu, namun bagaimana halnya dengan penamaan seorang penyair terkenal al-Mutanabbi tersebut?.
     Sang maestro ini bernama lengkapanya Abu Tayyib Ahmad bin Husain bin Murrah bin Abdul Jabbar Al
Ju’fi Al Kufi, dilahirkan di Kindah, kufah , Irak pada tahun 303 H/ 915 M. Nama al-ju’fi diambil dari nama kakeknya Ju’fi bin Sa’ad, sedangkan sebutan al-Kufi merujuk pada kampung halaman tempat dia dilahirkan, akan tetapi ia kerap dikenal dengan nama Abu Tayyib al-Mutanabbi atau hanya disebut al-Mutanabbi.
      Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana namun perhatiannya sangat besar pada ilmu pengetahuan terutama minatnya yang besar pada dunia syair dan sastra, yang mana telah banyak mencipta dan melantumkan banyak syair syairnya, yang berkaitan dengan puji pujian kepada orang orang terhormat baik ulama maupun penguasa pada saat itu. Pada tahun 935 M, al-Mutanabbi pernah dipenjara beberapa tahun didalamnya akibat dia dituduh mengaku sebagai Nabi, namun demikian, baginya penjara bukanlah akhir dari segalanya. Justru di tempat baru inilah dia kian kreatif menulis dan mencipta sajak sajak dan syair tentang berbagai peristiwa kehidupan dan sanjungan yang sangat dipuji dan mendapat imbalan yang sangat besar dari penguasa setelah keluarnya dari penjara, lantara itu pula, orang orang menjuliki syair syairnya dengan  al-Qasaid al-Dinariyyah,  yaitu Qasidah (syair) yang banyak mendatangkan dinar (uang).
       al-Mutanabbi sendiri bukanlah berasal dari pemberian orang tuanya, namun nama ini diberikan oleh orang orang lain sejak mudanya, dari sinilah muncul berbagai versi yang mengakibatkan kontroversi di kalangan masyarakat. Sebagaimana disebutkan, secara leksikal kata “al-Mutanabbi” berarti orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi. Tetapi menurut seorang ahli sejarah (Imam al-Khatib al-Baghdadi) mengatakan bahwa Abu Tayyib yang tak lain adalah al-Mutanabbi digelari Al Mutanabbi karena berasal dari keturunan keluarga Alawi Hasani (Keturunan Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib) dan kemudian mengaku sebagai Nabi, pengakuan ini dibuatnya ketika dia menetap di Kalb sebuah kampung di Syria, tetapi setelah diteliti, ternyata pengakuan ini tidaklah benar.
          Kisah lain menyebutkan, pada suatu hari Abu Tayyib Ahmad diminta untuk mengendarai unta betina liar oleh bani Adi (suku di Syria), bila dia berhasil maka dia akan diakui sebagai Nabi, ternyata dia berhasil mengendarai unta itu dan membuatnya menjadi binatang yang jinak, kejadian inilah yang membuat bani Adi yakin bahwa Abu Tayyib mempunyai kekuatan tertentu yang sama dengan Nabi. Masih di sekitar suku ini, cerita lain mengatakan, pada suatu hari ada seorang yang terluka parah terkena pisau, kemudian Abu Tayyib hanya dengan meludahi bagian yang terluka dan menekannya dengan kuat sehingga luka itu sembuh. Peristiwa itu membuat suku kabilah Adi semakin yakin bahwa dia adalah Nabi. Cerita yang tak kalah serunya adalah pengakuan dirinya sebagai Nabi, ketika Abu Tayyib membaca 114 kalimat dari Al Quran dan memperlihatkan kemukjizatannya kepada orang orang yaitu dengan menahan derasnya air hujan yang turun agar tidak membasahi tempat dimana ia berdiri, ternyata memang benar bahwa hujan hanya turun di sekelilingnya dan tidak membasahi tubuhnya, peristiwa inilah makin memperkuat pengakuannya sebagai seorang Nabi. Menurut pakar bahasa dan ahli sastra Arab, Ibrahim al-Yajizi, cerita dan kisah di atas tidak benar dan tidak berdasar. Untuk membuktikan hal ini al-Yajizi kemudian mengumpulkan semua syair syair al-Mutanabbi dalam sebuah buku berjudul “Diwan al-Mutanabbi” yaitu kumpulan syair-syair al-Mutanabbi.
       Ibrahim al-Yajizi menyatakan bahwa Abu Tayyib Ahmad digelari al-Mutanabbi tidak lain dan tidak bukan adalah karena syair yang diciptakan dan dilantumkannya sangat membuat kagum para pendengarnya, dengan kata lain bait bait kalimat yang dituangkan dalam Qasidahnya (syair) merupakan kalimat kalimat yang diberikan kemukjizatan. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat al-Tsa’labi yang menyatakan bahwa sejak kecil Abu Tayyib Ahmad telah menunjukan kemampuan dan kelebihannya yang besar dan dia mampu mengungkapkan kata dan syair yang sangat mengagumkan para pendengarnya.
       Dari semua ini, jelas bahwa al-Mutanabbi, hanyalah nama yang diberikan oleh orang orang terhadapnya atau gelar yang diperolehnya dari kemampuan memukau para pendengar terhadap syair syairnya, dan kemampuannya dalam merangkai kata serta penguasaannya terhadap ilmu bahasa Arab dan ilmu lainnya.
      
Kesastrawanan al-Mutanabbi
     Salah satu gelar yang disandang oleh al-Mutanabbi adalah Abu al-Fadhil. Gelar ini didapatkannya karena ketekunannya menggeluti dunia sastra. Ia termasuk penyair naturalis yang lebih banyak menumpukan karyanya untuk mengekspresikan hasil eksplorasi gagasannya tentang alam
         Sebagai contoh bait syair yang berisikan pujian kepada pemimpin di masanya:
Melalui mimpi kami telah mendengar
apa yang baginda ungkapkan,
dan kami pun telah menyaksikan
indahnya purnama di malam hari

      Contoh Syair Mutanabbi lainnya adalah  Satir terhadap Saif al-Daulah

رَحَلْتُ فَكَمْ بَاكٍ بِأَجْفَانٍ شَادِنٍ * عَلَيَّ وَكَمْ بَاكٍ بِأَجْفَانٍ ضَيْغَمٍ

وَمَا رَبَّةُ الْقُرْطِ الْمَلِيْحِ مَكَانُهُ * بِأَجْزَعَ مِنْ رَبِّ الْحِسَامِ الْمُصَمِّمِ

فَلَوْلَ كَانَ مَابِى حَبِيْبٍ مُقَنَّعٍ * عَذَرْتُ وَلكن مِنْ حَبِيْبٍ مُعَمَّمِ

رَمَى وَالتَّقَى رَمْيَ وَمِنْ دُوْنِ مَااتَّقَى * هَوًى كَاسِرٌ كَفِّى وَقُوْسِى وَأَسْهُمِى

إِذَا سَاءَ فِعْلُ الْمَرْءِ سَاءَتْ ظُنُوْنُهُ * وَصَدَّقَ مَايَعْتَادُهُ مِنْ تَوَهُّمِ

Saya berangkat, maka banyak orang menangisi saya dengan mata yang sendu, dan banyak pula yang menangis dengan kelopak mata yang memerah*

Dan wanita yang beranting-anting itu tak lebih menakutkan 
daripada lelaki penyandang pedang yang dapat memotong tiap ruas tulang*
Seandainya saya tak memiliki kekasih yang memakai penutup wajah dapat dimaaf, 
tetapi saya memiliki kekasih yang bersorban*
Yang melemparkan panahnya kepadaku sambil menghindar dari lemparan panahku. 
Dan dibalik perlindungannya tersimpan hawa nafsu yang memecahkan telapak tanganku, busur panahku, dan anak-anak panahku*
Bila prilaku seseorang itu jelek, maka jelek pula dugaanya 
dan membenarkan prasangka yang sesuai dengan kebiasaannya*

Penggalan Kisah: Mutanabbi dan Penjual Semangka
Suatu Ketika Al-Mutanabbi ditegur orang, "Sungguh orang-orang telah mendengar kekikiran Anda. Bahkan sifat buruk Anda telah menjadi bahan gunjingan orang-orang di sekeliling Anda. Padahal dalam syair-syair Anda, Anda sering memuji para dermawan dan kedermawanan mereka. Bahkan Anda juga mengecam orang-orang yang kikir dan kekikiran mereka. Bukankan Anda pernah mengatakan :
"Barang siapa yang menghabiskan berjam-jam waktunya untuk mengumpulkan harta, maka ialah si fakir yang sebenarnya."
Semua orang tahu bahwa kikir adalah sifat yang tercela. Apalagi jika berasal dari Anda. Selama ini Anda dikenal berjiwa besar dan memiliki cita-cita luhur. Kekikiran Anda menafikan semua itu."

Al-Mutanabbi menjawab:
"Sesungguhnya kekikiranku itu ada sebabnya. Saat aku masih kecil, aku berangkat dari Kufah menuju Baghdad. Dengan uang lima dirham di saku, aku berjalan-jalan menelusuri pasar Baghdad. Hingga aku tiba di toko buah-buahan. Aku melihat lima buah semangka besar segar, hingga aku tertarik dan berhasrat membelinya dengan uang lima dirhamku. Lalu kuhampiri si penjual,
"Berapa Anda jual kelima buah semangka ini ?" tanyaku menyelidik.
Namun si penjual malah menghardik,
"Pergi dari sini!Ini bukan makanan orang selevel kamu!"
"Tuan, jangan Anda berkata begitu. Sebut saja berapa harganya!"
"Sepuluh dirham!" bentak si penjual buah.

Betapa terkejutnya diriku hingga aku tidak mampu bicara untuk beberapa saat. Saat sadar, kucoba menawar harganya, namun ia menolak. Aku pun putus asa dan kubayarkan lima dirham milikku, namun ia tetap menolak. TIba-tiba seorang saudagar keluar dari penginapan miliknya dan kemudian pulang menuju rumahnya. Si penjual semangka bergegas menghampiri saudagar itu dan memanggilnya,
"Tuan, semangka-semangka ini masih ranum. Jika Tuan berkenan akan saya bawakan ke rumah Tuan."
"Berapa harganya?" tanya saudagar kaya itu.
"Lima dirham."
"Bagaimana jika kutawar dua dirham?"

Dengan senang hati, si penjual buah menerima tawaran tersebut. Bahkan ia menawarkan servis tambahan dengan membawakan kelima semangka itu ke rumah saudagar. Kemudian si penjual pulang ke tokonya dengan riang gembira.

Melihat pemandangan anih tersebut, aku pun berkata kepada si penjual semangka,
"Tuan, belum pernah aku melihat orang setolol Anda. Anda tawarkan semangka ini dengan harga mahal kepadaku, tetapi Anda jual murah kepada saudagar itu. Aku tawar lima dirham, Anda malah jual dua dirham ditambah jasa mengantarkan sampai ke rumahnya."

Penjual buah membentak,
"Diam anak kecil! Kamu tidak tahu kalau orang ini mempunyai seratus ribu dirham."

"Aku pun tersadar bahwa orang-orang tidak menghormati sesamanya, sebesar penghormatan mereka kepada orang yang mereka yakini memiliki seratus ribu dinar. Sejak saat itu, aku pun berjanji untuk selalu bersikap demikian - seperti yang Anda lihat sekarang - hingga aku mendengar orang-orang berkata bahwa si fulan memiliki seratus ribu dinar," Kata Al-Mutanabbi mengakhiri ceritanya.

Disunting dari kitab "Ash-Shubh al-Munbi 'an Haitsiyyah Al-Mutanabbi" karangan Yusuf Al-Badi'i [http://marsandhy.multiply.com/reviews/item/10?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem]

2 komentar: