Jumat, 21 Oktober 2011

Nur al-Din 'Abd al-Rahman al-Jami


Musim panas, musim dingin, dan musim semi akan berlalu.
Kita pasti akan jadi tanah dan debu
Biografi Singkat
       'Abd al-Rahaman Jami adalah salah seorang intelektual-Muslim yang pandai dari Persia yang hidup pada masa pertengahan Islam. Ia di lahirkan di Kharjad atau Jam (sebuah kota kecil di Afghanistan) pada tahun 1414 M / 817 H. Nama lengkapnya Nur al-Din 'Abd al-Rahman al-Jami. Anak dari Nizam al-Din ini, sebelum terkenal dengan sebutan al-Jami, ia akrab dengan dipanggil al-Dasty. Gelar terakhir ini diambil dari penisbatannya terhadap sebuah daerah dekat Kota Isfahan, tempat asal ayahnya.
        Ia adalah orang yang cerdas dan pandai, hal ini terbukti dari sejak kecil ia telah menunjukan sifatnya yang luar biasa itu. Ia sangat mudah dan tanggap menguasai pelajaran yang di berikan kepadanya. Ia adalah seorang yang pandai berorasi dan berargumentasi. Salah satu diantara para ulama  yang pernah menjadi gurunya ialah Syeikh Sa’u al-Din al-Kasygari, murid sekaligus khalifah Syeh Baharuddin Naqsibandiah. Dalam karyanya, Alexandrian Book of Wisdom, Jami’ menunjukkan bahwa mata rantai penyebaran
esoteris Sufi Asia Khajagan (para ‘Guru’), sama dengan yang digunakan oleh penulis-penulis mistik Barat. Dalam penyebaran Sufi, ia menempatkan beberapa nama sebagai guru, seperti Plato, Hippocrates, Pythagoras dan Hermes Trismegistos. Jami’ merupakan murid Sadedin Kasygari, pimpinan aliran Naqsyabandiyah, yang berhasil memimpin di wilayah Herat, Afghanistan. Kesetiaannya yang tertinggi kepada Khaja Obaidullah Ahrar, Pemimpin Aliran (madzhab).
        Keuletan dan potensinya itu mengantarkannya menjadi sosok yang dihormati dan dikagumi oleh semua lapisan masyarakat. Ia adalah tokoh yang sangat terkenal di kawasan Persia, sehinggga kemashurannya pun mencapai kawasan Turki Usmani. Disebutkan pada suatu waktu ia berada di Damaskus, ia dicari utusan Sultan Turki Usmani yang bermaksud mengundangnya ke Istana dan telah menyiapakan hadiah baginya. Karena tidak tertarik pada undangan itu, Al-Jami segera meninggalkan Kota Damaskus.     
      Beberapa tahun sebelum kematianya, ia berkunjung ke desa-desa tetangganya yang tidak di perhatikan secara khusus. Tiga hari sebelum meninggal, ia mengumpulkan beberapa murid dekatnya dan berkata, “Jadilah saksiku bahwa aku tidak punya ikatan dengan apapun  dan dengan siapa pun”. Ketika fajar mulai menyingsing di Kota Heart, Pada hari jum’at tahun 1492 M / 898 H, ia merasa bahwa kematiannya akan tiba. Ia merlakukan shalat dan kemudian duduk untuk melakukan dzikir, dan siang harinya ia pun wafat.
       Ada sebuah kisah jenaka dituturkan mengenai saat kematian Al-Jami’.
“Para sufi yang sangat sedih mengetahui bahwa ia akan segera wafat, berkumpul di rumahnya, sebagian menangis pelan-pelan, sementara sebagian yang lain sibuk melantunkan dzikir, tetapi ada salah seorang yang membaca al-Qur’an dengan suara keras dan mengganggu yang lain, akhirnya al-Jami’ mengangkat kepala dan berkata, “Demi Allah aku akan mati jika engkau tidak menghentikan keributanmu!”

Karya-karyanya
     Kita masih bisa melihat kebesarannya dalam karya-karya dan tulisannya yang berhasil ia telurkan. Tidak kurang dari 90 buku dan tulisannya yang dihasilkan, namun menurut sumber lain hanya berjumlah 46 karya dengan berbagai topik dan gaya. Dalam tulisannya, kebanyakan berbicara dalam bidang tasawuf, akan tetapi bidang-bidang lain pun tidak luput dari pehatiannya. Misalnya, menulis komentar tafsir sejumlah surah dalam al-Qu’an, memberikan komentar hadis-hadis yang di riwayatkan oleh Abu Dzar al- Ghifari.
     Di antara karya prosanya adalah Nafahat ul-Uns (Nafas dari Bayu Persahabatan),  Beharistan (Kota Musim Semi) dan koleksi Biography Para Wali Sufi. Karya puisinya yang terkenal adalah Haft Awrang (Tujuh Tahta Rahmat), yang terdiri dari 25 ribu bait. Buku Yusuf & Zulaikha merupakan puncak buah karyanya. Selain itu ia juga menulis tentang biografi Nabi Muhammad, bukti-bukti tentang kenabiannya, tentang biografi para sufi dan pengajaran mereka tentang para penyair, raja-raja, puisi, musik dan taat bahasa Arab.
     Meskipun demikian al-Jami lebih terkenal kehadirannya sebagai penyair dan sebagai juru bicara tasawuf aliran Wahdat al-Wujud. Menurutnya, Nafs atau jiwa manusia, sebagai unsur atau prinsip yang menghidupkan manusia, memiliki potensi untuk mencapai sejumlah tahap kesempurnaan yang berbeda. Dengan melewati tahap demi tahap, jiwa itu akan semakin dekat dan menyatu dengan Tuhan. Al-Jami membaginya dalam tiga fase. Pertama, fase paling rendah yang di sebut Nafs Amarat, yaitu nafs yang terus menerus mendorong kepada hal-hal yang buruk dan rendah. Setelah fase ini terlewati dengan mlalui latihan spiritual, jiwa ini akan meningkat pada fase yang ke-dua  yaitu Nafs Lawamat, yang berarti jiwa ini mampu mencela kekurangan-kekurangan dirinya sendiri. Bila di tingkatkan kembali maka akan mencapai pada fese yang ke-tiga yaitu Nafs Mutmainnat, pada fase ini jiwa akan sampai pada puncak kesempurnaannya, di sini jiwa akan merasa tentram, damai, dan bahagia.
       Dari banyak munajatnya yang indah kepada Allah, dia berkata,

“Ya Rabbi, ya Tuhanku, jauhkanlah kami dari perbuatan menghabiskan waktu untuk perkara-perkara kecil yang tidak berguna. Tunjukkanlah kepada kami segala perkara menurut hakekatnya. Angkatlah dari batin kami selubung ketidaksadaran. Janganlah diperlihatkan kepada kami barang yang tidak nyata sebagai barang yang ada. Janganlah Kau biarkan bayang-bayang menutup batin kami, sehingga kami tidak dapat melihat keindahan-Mu. Jadikanlah bayang-bayang ini sebagai kaca yang melalui batin kami untuk menyaksikan-Mu.”
     
Pada bagian lain dia berkata,

“Sang kekasih menyeru dari kedai minuman,
datanglah lalu berilah aku anggur cinta,
cawan demi cawan.
Kubebaskan diriku dari belenggu logika dan nalar.
Lalu kumulai meratap dan menangis untuk bersatu.”
   
Dalam tahun terakhirnya ia melihat visi tentang kematiannya, dan sering melantunkan bait syair berikut:
Adalah memalukan
Bahwa hari-hari berlalu tanpa kita
Bunga-bunga ‘ akan mekar dan musim semi akan tiba
Musim panas, musim dingin, dan musim semi
Akan berlalu
Dan kita pasti akan menjadi tanah dan debu.

Tulisan dan ajaran Jami’, pada akhirnya membuat dirinya begitu popular, sehingga para Sultan Turki dan para pemimpin lokal, secara terus menerus menawarkan sejumlah besar emas dan hadiah lain agar Jami mau menjadi bagian dari aristocrat Istana mereka.
Di bawah ini dituliskan beberapa ucapan Jami, yang meawakili ekspresi jiwa dan keilmuannya.

TUMBUH SUBUR
Jika gunting tidak digunakan setiap hari untuk menggunting jenggot, maka tidak akan melebihi panjang janggut itu sendiri karena pertumbuhannya yang subur, seolah-olah menjadi kepala.
 
KESATUAN
Cinta menjadi sempurna jika melebihi cinta itu sendiri Menjadi Satu dengan maksudnya; Menghasilkan Kesatuan Dzat.
 
SHALAT DAN HIDUNG
Aku melihat orang tengah sujud dalam shalatnya, dan berseru:
“Engkau menempatkan beban hidungmu di lantai dengan alasan bahwa hal itu syarat orang shalat.”
 
GURU
Penguasa adalah pelindung dan pengikutnya adalah rakyat. Ia harus menolong dan menyelamatkan mereka, tidak mengeksploitasi dan merusak mereka. Apakah pelindung untuk rakyat, atau rakyat untuk pelindung?
 
CINTA
Cinta manusia kebanyakan mampu meningkatkan manusia pada pengalaman cinta sejati.

AWAN KERING
Awan kering, tidak berair, tidak dapat memberi hujan yang berkualitas.
 
PENYAIR DAN TABIB
Seorang penyair mengunjungi tabib. Ia berkata, “Aku mengalami berbagai gejala mengerikan. Aku tidak bahagia dan tidak nyaman, rambut, tangan dan kakiku seolah disiksa.”
Tabib menjawab, “Apakah benar bahwa engkau belum mengeluarkan komposisi puisimu yang terbaru?”
“Benar,” jawab penyair.
“Bagus sekali,” jawab si tabib, “Bawakanlah dengan bagus!”
Ia melakukannya, dan atas perintah tabib, ia bersyair baris demi baris berulang-ulang.
Kemudian tabib mengatakan, “Berdirilah, karena engkau sekarang sudah sembuh. Apa yang engkau rasakan dalam tubuhmu adalah pengaruh dari fisikmu. Sekarang sudah bebas, engkau sehat lagi.”
 
PENGEMIS
Seorang pengemis menuju sebuah pintu, menanyakan sesuatu yang dapat diberikan kepadanya. Si pemilik (pintu) menjawab:
“Maaf, tidak ada seorang pun di dalam.”
“Aku tidak menginginkan siapa pun,” jawab pengemis, “Aku ingin makanan.”
 
KEMUNAFIKAN
Tercatat dalam Tradisi dari Guru bahwa suatu ketika Jami’ berkata, ketika ditanya tentang kemunafikan dan kejujuran:
“Apa hebatnya kejujuran dan apa anehnya kemunafikan!”
“Aku berkelana ke Mekkah dan ke Baghdad, dan aku membuat percobaan tentang perilaku manusia. Ketika aku meminta mereka untuk jujur, mereka selalu memperlakukanku dengan hormat, karena mereka berpikir bahwa orang baik selalu berkata demikian, dan mereka telah belajar bahwa mereka harus bermimik sedih pada saat orang berbicara kejujuran. Ketika aku meminta mereka menghindari kemunafikan, mereka semua setuju.
Tetapi mereka tidak tahu ketika aku berkata ‘kebenaran’, aku tahu kalau mereka tidak tahu apa kebenaran itu, dan kemudian mereka atau aku menjadi munafik.
Mereka pun tidak tahu bahwa ketika aku mengatakan agar tidak munafik, mereka menjadi munafik karena tidak menanyakan caranya. Mereka tidak tahu pula kalau aku menjadi munafik, ketika mengatakan ‘jangan munafik’, sebab kata-kata tidak menyampaikan pesan dengan sendirinya.
Mereka menghargaiku, ketika aku berlagak munafik. Mereka sudah diajari untuk bertingkah demikian. Mereka menghormati diri sendiri sementara mereka berpikir secara munafik; karena merupakan kemunafikan berpikir, bahwa seseorang secara sederhana bertambah baik dengan berpikir bahwa menjadi munafik itu jelek.
Intinya, Jalan yang membawa ke (derajat) atas adalah: mempraktekkan dan memahami untuk tidak dapat (menjadi) munafik, di mana terdapat kejujuran dan tidak ada sesuatu yang menjadi tujuan manusia.”
 
HARGA DIRI
Jangan membual kalau engkau tidak memiliki harga diri, karena hal itu lebih terlihat daripada kaki semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Dan jangan berpikir bahwa mengeluarkannya hal mudah, karena lebih mudah menarik gunung dari muka bumi dengan sebuah jarum.
 
AKAL
Berhentilah membual tentang akal dan belajar; karena di sini akal menghambat, dan belajar adalah kebodohan.
 
APA YANG AKAN KITA LAKUKAN?
Mawar telah hilang dari taman; apa yang akan kita lakukan dengan duri-durinya?
Syah tidak ada di kota; apa yang kita lakukan dengan istananya?
Pasar malam adalah sangkar, kecantikan dan keindahan adalah burung; Jika burung telah terbang, apa yang akan kita lakukan dengan sangkar?
 
NEGARA
Keadilan dan kejujuran, bukan agama atau ateisme,
Dibutuhkan untuk perlindungan terhadap Negara.
 
GELOMBANG BESAR
Di hadapan Nusyirwan yang adil, para guru bijak mendiskusikan tentang gelombang berat dalam penderitaan.
Salah seorang mengatakan bahwa hal itu adalah
penyakit dan nestapa;
Lainnya, bahwa hal itu usia lanjut dan kemiskinan;
Ketiga, bahwa hal itu mendekati kematian dengan
sedikit karya (amal).
Dan akhirnya, yang satu ini diterima.

Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat oleh Idries Shah
Judul asli: The Way of the Sufi, Penterjemah Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha
Penerbit Risalah Gusti, Cetakan Pertama Sya’ban 1420H, November 1999
Jln. Ikan Mungging XIII/1, Surabaya 60177
Telp.(031) 3539440 Fax.(031) 3529800

 

 

 



     

    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar