Selasa, 18 Maret 2014

"Kimya Putri Rumi"Karya Maurel Maufroy

            Alasan utama saya mengangkat tema ini adalah ketertarikan saya terhadap pengarang yang menampilkan perempuan sebagai tokoh sufi yang sejarah kehidupannya dan dikaitkan dengan tokoh sufi terkenal sepanjang masa, Jalaludin Rumi atau yang secara singkat dipanggil Rumi adalah hal esensial yang ingin ditunjukkan pengarang. Selama ini, seperti yang kita ketahui, sangat jarang ada sebuah karya sastra yang mengangkat karakter perempuan dalam tema-tema bersifat sufistik. Jika berbicara mengenai hal ini maka tidak bisa dilepaskan dari teori-teori mengenai karya yang melibatkan perempuan sebagai pengarang maupun sebagai karakter dalam suatu karya. Salah satu tokoh yang menyinggung mengenai hal ini adalah Mary Wollstonecraft. Ia mendekonstruksi deskripsi karakter perempuan dalam banyak karya ‘picisan’ yang dibuat oleh pengarang laki-laki. Mary menentang seluruh gambaran negatif yang mendiskreditkan peran perempuan yang selalu ada di bawah dominasi kaum pria. Namun, sebelum beranjak ke teori dan berbagai penjelasannya, pada awal tulisan akan terlebih dahulu menyinggung sedikit mengenai unsur ekstrinsik yang menjadi subtansi dasar dalam novel ini.


 Unsur Ekstrinsik Novel
Novel karangan Maurel Maufroy ini sangat erat kaitannya dengan sejarah, sosiobudaya dan politik yang ada pada setting yang menjadi latar belakang historis cerita ini. Meskipun tema mengenai perempuan menjadi landasan fundamen dalam novel ini, namun penggunaan tokoh Rumi sendiri memiliki alsan tertentu. Rumi adalah legenda yang menjadi kiblat bagi para pecinta Tuhan dengan konsep transendennya. Pengalaman-pengalaman ekstasenya yang kemudian di aplikasikan pada karya-karyanya banyak menginspirasi orang-orang, baik yang beragama Islam maupun selain Islam. Dari beberapa sumber yang saya baca, kepopuleran Rumi sebagai tokoh yang piawai mengajarkan ilmu keagamaan dari menjadi guru besar di tempat tinggalnya di Konya, salah satu pusat keilmuan di Turki pada saat itu hingga transformasinya menjadi ahli sufi tak bisa dilepaskan dari unsur sosiobudaya dan politik pada saat itu. Pada sekitar tarikh 1243 M, Bani Saljuk dikalahkan oleh tentara Mongol hingga menimbulkan keresahan masa yang berdampak negatif pada sisi spiritual dan psikologis para penduduk Timur Tengah. Paham yang masih dianut oleh khalifah yang berkuasa pada saat itu adalah Muktazilah yang sangat mengagungkan akal dalam pemecahan masalah hingga ke hal yang transenden sekalipun.
Namun, setelah mengalami kekecewaan perang, masyarakat menjadi goyah akan ideologi yang selama ini mereka usung mengenai logika berpikir. Saya berasumsi bahwa kehadiran Rumi merupakan angin segar untuk menggapai hal yang sebelumnya tak teralisasikan dalam kehidupan nyata. Ajaran-ajaran Rumi seolah mengisyaratkan bahwa masih ada sesuatu yang perlu digapai oleh seseorang dalam kehidupan spiritualnya yakni kedekatan dengan Tuhan (Meskipun pada saat Rumi telah menjadi tokoh sufi yang dianggap mumpuni banyak yang justru menganggap ia berubah dan tak lagi mau mengajarkan ilmu agama lagi pada para muridnya). Terlalu ironis mungkin jika dikatakan sebagai pelarian tapi mungkin ini bisa disebut sebagai pengembangan suatu metode pencerahan jiwa kearah yang samasekali baru.
Jika dilihat dari unsur ekstrinsiknya, sudah dipastikan novel ini sedikit banyaknya merupakan gambaran yang memuat  realitas sejarah. Ada kesinambungan tertentu yang terjalin antara struktur sosial dengan struktur karya. Namun, tidak semua realitas yang terjadi dalam kehidupan nyata bisa diungkap dengan gamblang dalam suatu karya kerena ada suatu proses seleksi tertentu yang nantinya akan menggabungkan fakta sosial dan imajinasi. Penggunaan imajinasi bukannya hanya digunakan untuk menghibur pembaca namun juga digunakan untuk menciptakan suatu kapasitas pemahaman mengenai ideologi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang.

Karya sastra, karya seni pada umumnya, menganggap imajinasi, kreativitas, dan unsur-unsur estetis yang menyertainya, justru sebagai kualitas rekaan yang menyediakan sejumlah energi untuk memperbaharui pola-pola yang sudah usang, sekaligus membentuk pola-pola yang baru (Ratna, 2011:96).

            Jika disinggung apakah Kimya benar-benar ada di kehidupan nyata, bukan hanya sebagai tokoh rekaan belaka, saya tak mendapat informasi jelas mengenai ini. Sekalipun tokoh Kimya adalah semata-mata fiksi pun, hal itu tidak masalah samasekali, karena apa yang akan dibahas adalah realitas yang terjadi di novel yang terkandung dalam unsur intrinsiknya dan berkaitan langsung dengan teori Mary Wollstonecraft.

Unsur Intrinsik Novel Kimya Putri Rumi
Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membacanya adalah penggunaan diksinya. Novel ini seperti tidak begitu mementingkan alur atau jalan cerita dalam pengungkapan realitas yang terjadi. Narator menyediakan kapasitas lebih besar untuk mengungkap pengalaman-pengalaman spiritual setiap tokoh dengan keagungan bahasa beserta kedalaman maknanya. Pengungkapannya mengenai bagaimana para tokoh seperti Rumi, Tabriz dan Kimya menjalani kehidupan sehari-harinya yang sederhana tapi dengan pemaknaan yang berlimpah seakan mengingatkan pembaca untuk menggali kedalaman spiritualnya. Bahwa mungkin kehidupan akan lebih terarah jika kita tak sekedar memaknai kehidupan ini hanya sebagai aktivitas budaya yang berbanding lurus dengan berjalannya waktu. Saya rasa itulah yang menjadi ciri khas sekaligus pesan yang ingin disampaikan pengarang. Salah satu hal menarik yang saya dapat adalah dialog antara Akbar, salah seorang murid sekaligus pengagum Rumi dengan Sadruddin, sahabat Rumi. Akbar begitu kecewa dengan sikap Rumi yang berubah seratus delapan puluh derajat setelah kedatangan Syams. Ia merasa kehilangan pijakan karena selama ini seseorang yang selalu ia agungkan telah berubah sikapnya. Ia merasa dikhianati dan kehilangan pijakan.

‘Jagalah kemurnian cintamu pada Maulana dan kau akan lihat segalanya akan baik-baik saja. Waktu yang akan membuktikannya. Dan ingatlah selalu, bersabarlah.” Dia melafalkan kata terahir dengan perlahan, seolah sedang mengajarkan kosakata baru pada anak kecil. Kembali ia tertawa dan bangkit. ‘Sabar adalah sebuah kata, ya aku tau itu tak memikat anak muda.’

Mungkin perasaan Akbar ini mewakili keheranan dan perasaan pembaca. Bisa dikatakan bahwa narator seolah mengajak pembaca untuk mengembara dan mengalami keraguan akan salah satu tokoh tapi di saat yang sama narator menghadirkan pemuasan akan keraguan itu sendiri dengan menghadirkan karakter tokoh bandingan.
            Dari unsur narasinya, novel ini bercerita mengenai perjalanan seorang perempuan dalam menempuh perjalanan menjadi sufi wanita.  Kimya  berasal dari keluarga petani yang menetap di pedalaman Anatolia di Turki. Sejak kecil, ia telah banyak mengalami kejadian yang mengguncang sisi spiritual dalam dirinya. Ia dianggap berbeda oleh teman sepermainan bahkan oleh orang tuanya sendiri. Seringkali, ia terlihat seperti meninggalkan dunia tempat ia berada dan termenung, seakan jiwanya terbang mengelana ketempat yang tak terjangkau indra. Pada saat itu, ia tak bisa menjelaskan mengapa ia merasakan hal itu, ia sendiripun tak mengerti hal apa yang menimpanya. Kepindahannya ke Konya mengubah total seluruh kehidupannya. Sebagai putri angkat Rumi, Kimya banyak belajar banyak hal terutama, sisi spiritual dan kerinduannya akan Tuhan makin terasah. Konflik lalu timbul saat ia menikah dengan Tabriz, seorang sufi berasal dari Syams yang juga merupakan guru Rumi. Banyak orang yang tak suka akan keberadaan Tabriz, karena setelah kedatangannya ke Konya, Rumi tak lagi ingin mengajar ilmu agama tapi banyak berkhalwat dengannya. Rumi seolah menelantarkan murid-muridnya yang haus akan ilmu pengetahuan agama. Disinilah ketahanan Kimya sebagai seorang perempuan diuji. Kimya menunjukkan bagaimana ia bertahan menghadapi tuduhan orang-orang yang mengarah pada Tabriz sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas berubahnya Rumi. Para perempuan pun bergosip bahwa Tabriz telah mengekang Kimya sedemikian rupa hingga ia tak boleh bergaul dengan teman-temannya.
            Jika dilihat dari segi karakter utama, Kimya, menurut saya, sikap Kimya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang menimpanya adalah identitas karakter yang membumi sekaligus memberikan teladan.  Saat usianya belum dewasapun Kimya telah mampu menunjukan kedewasaannya dengan tak berpikiran negatif mengenai apa yang terjadi dalam keluarganya setelah kedatangan Tabriz seperti apa yang orang-orang pikirkan. Ia begitu tersinggung dengan gunjingan orang-orang.

Keesokan harinya, di pasar Kimya mendengar orang-orang menyebut Syams sebagai Iblis dan ‘Betapa mengerikannya harus hidup bersamanya dalam satu atap!’ Dia terus berjalan, tak memedulikan omongan tersebut, tapi hatinya terasa sesak, ingin sekali ia menangis keras-keras. ‘Semua sama sekali tidak benar. Syams bukan iblis. Ia adalah angin yang sangat dahsyat  yang mengobarkan api yang membakar apapun yang disentuhnya. Dia adalah sang pembawa berita rahasia. Dia…’ (hl. 189)

            Dalam kutipan tersebut jelas bahwa adalah pribadi yang kuat dengan segala karakter feminin yang ia miliki. Ia tidak tergoyahkan dengan asumsi orang-orang yang mendiskreditkan kehadiran Tabriz ke tengah keluarganya. Ia tak menggunakan pertimbangan emosi belaka ketika menghadapi masalah. Di satu sisi, ia juga begitu membumi dengan segala kegelisahan yang ia alami ketika melihat sikap Tabriz kepadanya. Hal ini terbukti ketika ia bertanya-tanya mengapa suaminya seakan tak memperhatikan dirinya.

Kimya sedang berbaring di ranjang. Dia sepenuhnya terjaga. Syams telah pergi seharian. Sekarang malam semakin larut saja tapi Syams belum juga pulang. Apakah menikah itu hidup bersama layaknya kakak adik atau lebih seperti ayah dan anak? Apakah menikah itu jarang sekali bertatap muka dengan pasangannya? Kalau Syams berada di dekatnya, rasanya begitu tenang dan puas hati. Kehadirannya entah bagaimana, mengatur ulang kenyataan dan mempertajamnya.

            Dalam cerita selanjutnya, perjalanan spiritual Kimya menjadi semakin terasah dan berliku setelah ia mengalami berbagai peristiwa aneh. Kimya bisa tiba-tiba berada pada satu ruangan bersama Tabriz dan Maulana (Rumi) padahal sebelumnya ia sedang memasak  atau berbaring. Ketika ia ingat melihat tangannya, yang tampak hanyalah lantai tempat ia duduk. Ia terkejut saat melihat ka cermin, ia samasekali tak melihat pantulan bayangannya. Maulana menyebutnya sebagai karunia Tuhan. Namun, justru Kimya malah merasakan kesepian karenya. Ia merasa itu adalah hal yang menjadi penyebab utama kesendiriannya (hal. 286-287).

Karakter Kimya dan Konsep Mary Wollstonecraft
            Kaitannya dengan apa teori Mary adalah konsepnya mengenai penolakan terhadap novel yang disebut ‘picisan’ karena mendramatisir kearakter kelemahan perempuan. Di sini, saya bukannya akan megasumsikan bahwa novel ini adalah contoh apa yang disebut dengan karakter novel picisan atau mengaplikasikan teori Mary mengenai konsep karakter perempuan seharusnya dengan menganalisa karakter Kimya berdasarkan cerita. Karena, walaupun bagaimana tak akan terjadi korelasi sebab keduanya sangat kontradiktif, Mary menceritakan mengenai perempuan dalam kehidupan nyata sedangkan objek kajian kita adalah tokoh fiksi dalam sebuah cerita novel. Jadi, apa yang akan dibahas? Perlu saya jelaskan terlebih dahulu bahwa pemikiran-pemikiran Mary dilatarbelakangi oleh banyak karya yang memarginalkan karakter perempuan dalam banyak karya sehingga sedikit banyaknya hal itu berpengaruh terhadap perkembangan paradigma sosio masyarakat mengenai konsep patriarki. Secara singkatnya, Mary menentang karakter perempuan yang lebih terbelakang dalam segi pendidikan dan logika berpikir dibanding laki-laki. Perempuan hanya mementingkan perasan dibanding dengan intelejensi berpikir sehingga mereka lebih menyukai karya-karya yang picisan dan termehek-mehek. Mary dengan jelas menentang itu semua terlebih, pada kenyataannya novel picisan tersebut  dikarang oleh banyak kaum pria yang samasekali tak tau apa-apa mengenai perempuan, alasannya adalah kesangsian akan totalitas pria dalam mengemukakan perasaan perempuan sebab mereka bukanlah perempuan. Memang jika disinggung, hal itu adalah fiksi belaka, tapi hal yang menjadi masalah adalah mengenai penggambaran negatif itu sendiri. Seharusnya jika karya sastra itu fair maka tak akan ada makna superior dan inferior dalam karya yang menggambarkan karakter perempuan tadi. Bahkan Mary menyebutkan bahwa cara terbaik untuk menghadapi karya sastra yang termehek-mehek dan merendahkan karakter perempuan adalah dengan menganggapnya sebagai lelucon yang tak pantas dikonsumsi.

The best methode, I believe, that can be adopted to correct fondness for novels is to redicule them: not indiscriminately, for them it would have the little effect; but, if a judicious person, with some turn of humour, would read several to a young girl. And point out both tones and apt comparisons with patheic incidents and heroic characters in history, how foolishly and ridiculously they caricatured human nature, just opinions might be subtituted instead of romantic sentiments (Adam, 1996:339).

            Jadi, apa yang ingin saya kemukakan adalah novel Kimya Putri Rumi ini adalah contoh ideal dari realisasi penggambaran karakter perempuan seharusnya dalam karya sastra. Memang, dalam esaynya Mary tak menyebutkan karya sastra apa yang mendeskripsikan perempuan dari segi positif atau minimal segi netralnya karena memang yang menjadi fokus utamanya adalah perempuan dalam kehidupan nyata. Namun, sedikit banyaknya, karakter Kimya memperbaiki citra perempuan sebagai tokoh yang tak termarginalkan sekaligus menolak mentah karakter feminis yang melibihi kapasitasnya. Sebagai contoh, Kimya bersikap bijak dalam menghadapi konflik batin yang disebabkan oleh berbagai peristiwa aneh dalam jiwanya dan sikap suaminya. Kimya mengaitkan pemecahan masalahnya dengan hal transenden. Saya rasa inilah yang menjadi nilai plus dalam karakternya. Kekayaaan jiwanya yang telah terasah sejak ia kecil adalah suatu keagungan yang membantunya sendiri keluar dari masalahnya. 

Dia terkenang akan mawar-mawar Tabriz yang pernah dikatakan Syams dulu jauh sebelum pernikahan mereka mawar-mawar kuning dengan tetesa darah yang tertabut di pintu masuk pondok di hari pernikahan mereka. ‘Mawar-mawar ini begitu dekat dengan Tuhan,’ begitu katanya. Hanya hati yang berdarah-darah yang dapat menemukannya.’ Kalimat itu dulu terdengar menakutkan tapi sekarang dia paham apa maksudnya. Dia pernah merasa diabaikan Tuhan dan Syams. Di tengah kegersangan yang total itu, dia jadi memahami bahwa alih-alih melabuhkan hatinya untuk Tuhan, dia begitu bergantung pada Syams sehingga kondisi hatinya berubah-uba, dan kehilangan pijakan. Sekarang ia mengerti! Tanpa pijakan itu yang tersisa hanyalah kepedihan. Itulah perbedaannya! Cinta, cinta sejati, adalah sama seperti seseorang yang melihat melalui jendela Tuhan. Selain itu hanyalah keterikatan, dan keterikatan itu seperti kita terjatuh dari jendela itu. Dia diliputi kelegaan. Seseorang bisa saja mencintai tanpa menginginkan balasan apapun dari orang yang ia cintai! (hal.316)

Saya tak menyinggung ini sebagai masalah yang pantas untuk digiring ke ranah faminisme. Karena, terdapat perbedaan yang mendasar di sini mengenai sejarah konsep feminisme itu sendiri. Selalu ada konfrontasi antara perbandingan perkembangan feminisme Barat dan Timur. Seperti yang kita tau bahwa sejarah feminisme Barat begitu kelam hingga menimbulkan pemberontakan yang berlangsung hingga sekarang dan berakibat pada ekses negatif yang membawa pada aliran ekstrimis sedangkan di Timur sendiri, seperti banyak di negara-negara Timur Tengah, feminisme menjadi hal krusial karena ketidakpastiannya akan eksistensinya antara wilayah sosial dan agama. Dalam karya ini bagaimanapun, tujuan analisa saya bukanlah untuk berargumen di satu sisi membenarkan apa yang Mary ungkapkan mengenai konsep feminismenya. Tapi, seperti yang telah dijelaskan di atas, mencoba menyoroti karakter tokoh seorang perempuan dalam karya yang bertema sufistik.
Kesimpulannya adalah kehadiran tokoh Kimya dalam karya sastra yang bertema sufistik ini telah memposisikan karakter prempuan dengan identitas femininnya untuk berada dalam ranah sebagai tokoh yang termarginalkan tapi justru membuatnya menempati wilayah istimewa karena kedekatannya dengan Tuhan.

Daftar Pustaka

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra; dari Strulturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hazard, Adams. 1996. Critical Theory Since Plato. Harcourt Brace Jovanovich Collage Publishers.
Maufroy, Maurel. 2004. Kimya Putri Rumi. Bandung: mizan.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar